Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah

tata cara penyelenggaraan jenazah

Jenazahmayatjasad atau kadaver dalam istilah medis, literal, dan legal, atau saat dimaksudkan dalam pembedahan, adalah tubuh yang sudah tidak bernyawa.

Agama Islam memiliki aturan dan tata cara untuk memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya. Berikut tata cara penyelenggaraan jenazah dalam islam berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah.

  1. MENGHADAPI KEMATIAN

Sebelum masuk kepada Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah, maka perlu juga dibahas tentang cara menghadapi kematian.

  1. Bila salah seorang kamu sakit, hendaklah dia bersabar, maka dosa-dosanya akan diampuni Allah swt.
  2. Hendaklah orang yang sakit itu bersangka baik kepada Allah swt.
  3. Orang yang sakit itu hendaklah berwasiat, kalau dia meninggalkan barang milik (harta benda).
  4. Talqinkan (tuntunkan) orang yang akan meninggal dengan ucapan tahlil ( (لا إله إلاّ الله

Adapun membaca surat Yasin pada orang yang hampir mati / sekarat, tidak ada dalilnya yang shahih.

  1. Hadapkanlah orang sakit itu ke arah kiblat
  2. Kalau ia sudah meninggal, pejamkanlah matanya, karena mata mengikuti keluarnya ruh dari badan.
  3. Do’akanlah ia dengan do’a :

حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِىُّ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى أَبِى سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ ». فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ « لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ». ثُمَّ قَالَ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ. وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ ».

معانى بعض الكلمات :       الغابر : الباقى

Dari Ummu Salamah dia berkata : Rasulullah saw masuk ketempat Abu Salamah (yang wafat) dan matanya terbuka, maka ditutupkannya, kemudian nabi berkata : “Sesungguhnya ruh itu apabila dicabut, akan diikuti oleh mata. Maka manusia dari keluarganya rebut.” Lalu nabi saw berkata : “Janganlah kamu do’akan atas diri (keluargamu) kecuali yang baik, karena malaikat akan meng-aminkan apa yang kamu ucapkan.” Kemudian nabi saw berdo’a : “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah (……isi dgn nama yg dikunjungi ) , tinggikanlah derajatnya termasuk pada orang-orang yang dapat petunjuk, dan gantilah sesudahnya pada orang-orang yang ditinggalkan dan ampunilah kami dan untuknya yang Tuhan seru sekalian alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah kuburnya.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, Ibnu Hibban, Baihaqi, Abu Ya’la, Thabrani)

  1. Selubungilah jenazah dengan kain yang baik.
  2. Lunasilah hutangnya segera, karena rohnya akan tertahan menghadap Allah kalau hutangnya belum dilunasi.
  3. Segerakan pengurusan jenazahnya, jangan ditunda – tunda.
  4. Kabarkanlah kepada kaum kerabat dan teman – temannya kaum muslimin lainnya.

Ada 4 ( empat ) kewajiban muslimin yang hidup terhadap muslim yang meninggal, yang sering disebut FARDHU KIFAYAH. Pada hal istilah Fardhu kifayah sebenarnya bukan hanya khusus untuk pengurusan jenazah.

Fardhu kifayah yaitu setiap kewajiban yang bila telah dikerjakan oleh sebagian orang, maka lepaslah kewajiban yang lain, seperti menjawab salam, pengurusan jenazah, dll.

Fadhu kifayah yang 4 untuk jenazah itu ialah :

  1. Memandikannya
  2. Mengapaninya
  3. Menshalatkannya
  4. Menguburkannya

 

I. MEMANDIKAN

A. ALAT – ALAT MEMANDIKAN JENAZAH

  1. Tempat memandikan berupa dipan atau meja, dan kain penutup tempat mandi itu.
  2. Sabun yang sudah dicairkan, lebih baik sabun cuci tapi bisa juga sabun mandi.
  3. Air jeruk purut, cara membuatnya : 3 ( tiga ) buah jeruk purut diparut dan disaring, banyaknya sekitar satu mangkok sedang.
  4. Air kapur barus yang sudah dihaluskan sebanyak satu mangkuk sedang.
  5. Air biasa sekitar 3 ( tiga ) ember besar.
  6. Sugi – sugi, yaitu lidi yang ujungnya dibungkus dengan kapas. Panjang lidi itu ± 7 cm jumlah juga 7 buah.
  7. Lidi untuk mencongkel kuku.
  8. Sarung tangan.
  9. Handuk atau yang sejenisnya.

B. ADAB MEMANDIKAN JENAZAH

  1. Kalau ada aib atau kekurangan tubuhnya, harus dirahasiakan, jangan dicerita kan kepada orang lain.
  2. Cara memandikan harus dengan pelan dan kasih sayang, tidak boleh dengan kasar atau menunjukkan ketidak senangan.
  3. Waktu memandikan aurat utama harus tetap ditutup dengan sarung atau basahan.
  4. Yang memandikan mayat laki–laki, harus laki–laki juga, kecuali istrinya.
  5. Yang memandikan mayat perempuan harus perempuan juga, kecuali suaminya

 

C. CARA MEMANDIKAN

  1. Letakkan mayat diatas dipan, dan sebaiknya tidak dipangku.
  2. Cebokkan ( istinjakkan ) mayat itu dengan tangan kiri, dan sebaiknya pakai sarung tangan. Kawan membantu menyiramkan sampai ke duburnya berulang–ulang, hingga hilang warna kuningnya.
  3. Tangan boleh diluruskan pelan–pelan dan boleh juga dalam posisi bersedekap.
  4. Siramkan air ( biasa ) dari kepala sampai kaki dgn pelan–pelan, dengan cara :
  • Mula–mula sebelah kanan 3 kali
  • Kemudian sebelah kiri 3 kali
  • Terakhir tengah–tangah 1 kali
    * Jumlahnya sebanyak 7 kali ( ganjil )
  1. Siramkan air sabun sampai semua tubuh kena secara merata. Satu orang menggosok secara perlahan, dan yang lain menyiramnya. Termasuk yang disiram / digosok ialah belakang kuping, ketiak, paha, sela – sela jari, kepala, rambut, dll. (Tanda sudah bersih badannya sudah kesat, tidak licin lagi.)
  1. Sesudah bersih badannya bagian depan, termasuk rambut dan kepalanya, miringkan jenazah kekiri dan gosoklah bagian yang kanan dan punggungnya. Kemudian miringkan jenazah kekanan, dan gosoklah bagian yang kiri dan punggungnya.
  2. Siramkan air jeruk dari kepala sampai kekaki :
  • Mula–mula sebelah kanan 1 kali
  • Kemudian sebelah kiri 1 kali
  • Terakhir tengah–tengah 1 kali

CATATAN : kalau mayatnya sudah agak uzur ( sudah mulai berbau ), maka boleh air jeruk didahulukan dari air sabun ( sebelum no. 5 ).

  1. Telentangkan jenazah dan siram dengan air biasa.
  2. Gunakan sugi – sugi untuk :
  • telinga kanan, dan bersihkan sampai bersih
  • telinga kiri, dan bersihkan sampai bersih,
  • mata kanan, dan bersihkan sampai bersih
  • mata kiri, dan bersihkan sampai bersih
  • lubang hidung kanan, dan bersihkan sampai bersih
  • lubang hidung kiri, dan bersihkan sampai bersih
  • mulut, dan bersihkan sampai bersih
  1. Bersihkan kuku tangan dan kaki dengan lidi sampai bersih.
  2. Siram lagi dengan air biasa.
  3. Terakhir siram dengan air kapur barus dari kepala sampai kaki, yaitu :
  • Bagian kanan
  • Bagian kiri
  • Tengah – tengah badan
  1. Setelah ini tidak boleh lagi disiram dengan air.
  2. Lap semua tubuhnya dengan handuk sampai kering.
  3. Kalau untuk perempuan, rambutnya ditocang ( dijalin tiga ) dan diletakkan diubun – ubunnya.
  4. Tidak ada perbedaan mendasar antara cara memandikan mayat perempuan dengan mayat laki – laki.

 

II. MENGKAFANI

A. BAHAN – BAHAN

  1. Kain kapan (kain putih) sepanjang lebih kurang 12 m atau sesuai kebutuhan.
  2. Kapas
  3. Gaharu
  4. Cendana
  5. Kapur barus yang sudah ditumbuk

B. CARA MENGKAFANI MAYAT LAKI – LAKI

  1. Ukurlah mayat dari kepala sampai ke ujung kaki ( ujung jari ), dan lebihkan sekitar 30 cm ( segulungan lutut )
  2. Talinya 5 buah diambil dari pinggir kain. Cara mengambil talinya : gunting sedikit dan koyakkan.
  3. Kain kapan harus dipotong secara ganjil ( 3 atau 5 potong )
  4. Yang paling luar/bawah, 2 bidang kain yang didampetkan, dan dianggap 1 lapis. Yang kedua, 1 bidang kain atau satu setengah bidang kain yang panjangnya sama dengan yang dibawahnya. Yang ketiga, 1 bidang kain atau satu setengah bidang kain yang panjangnya sama dengan yang dibawahnya.
  5. Letakkan kapas diatas kain tang paling atas dan diatas kapas ditaruh gaharu.
  6. Letakkan jenazah diatas kain kapan.
  7. Letakkan kapas diatas mukanya, dagunya, diantara lipatan tangan, dikaki, diantara kaki san paha dan didada.
  8. Gulunglah kain kapan bersama – sama ( 2 orang ) dengan arah yang sama atau boleh juga berlawanan arah.
  9. Ikatkan jenazah itu sebanyak 5 ikatan, yaitu di ujung kaki, di lutut, di dada, di kepala dan diujung kepala.
  10. Yang di kepala diakhirkan mengikatnya, karena mungkin ada yg akan melihat / mencium jenazah.
  11. Simpul ikatan berada / diletakkan di sebelah kiri jenazah ( supaya mudah membukanya waktu diliang lahat )

UNTUK JENAZAH PEREMPUAN

Ada tambahan kapannya, yaitu :

  1. ada telekung, dari kain kapan itu juga.
  2. ada sarung, dari kain kapan itu juga.
  3. ada baju , seperti baju teluk belanga sederhana dan ada lehernya.
  4. ada cawat sederhana.

* Semua bahan diatas dari kain kafan.

URUTAN KAIN KAPAN PEREMPUAN

  1. Yang paling awal ( paling dibawah ) adalah kain yang paling besar ( dua bidang disambungkan ).
  2. Setalah itu yang agak kurang besar.
  3. Setalah itu telekungnya.
  4. Setelah itu sarungnya.
  5. Setelah itu bajunya.

Walaupun sebagian ulama men dha’ifkan tentang masalah pakaian jenazah itu.

III. MENSHALATKAN JENAZAH

  1. Shalatkanlah jenazah dengan syarat – syarat shalat seperti berwudhu’, menutup aurat, dll.
  2. Waktu – waktu yang dilarang shalat jenazah adalah :
    a)      Waktu terbit matahari ( kecuali matahari sudah naik )
    b)      Waktu pas tengah hari ( kecuali matahari sudah tergelincir )
    c)      Waktu akan terbenam ( kecuali sesudah terbenam )
  3. Tidak ada yang dibaca sebelum shalat jenazah
  4. Kalau jenazah pria, hendaklah imam berdiri dekat kepalanya.
    Kalau jenazah wanita, hendaklah imam berdiri dekat lambung / perutnya ( ditengah – tengah jenazah ).
  5. Usahakan menshalatkannya dalam 3 shaf, walaupun orangnya sedikit.
  6. Shalat jenazah terdiri dari 4 takbir, tanpa ruku’ dan sujud.
  7. Setiap takbir mengangkat kedua tangan.

A. TAKBIR PERTAMA

Sesudah takbir pertama dengan membaca  اَللهُ اَكْبَر  maka dibaca al Fatihah dan shalawat.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

اللَّهُمّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَآلِ إبْرَاهِيْمَ  وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وآل إبْرَاهِيْمَ إنكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

B. TAKBIR KEDUA

Sesudah takbir kedua dengan membaca  اَللهُ اَكْبَر  maka dibaca do’a :

“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ، واعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

C. TAKBIR KETIGA

Sesudah takbir ketiga dengan membaca  اَللهُ اَكْبَر  maka dibaca do’a :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيمَانِ اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ ».

D. TAKBIR KEEMPAT

Sesudah takbir keempat dengan membaca   اَللهُ اَكْبَر    maka dibaca do’a :

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

Mengucapkan salam (seperti salam shalat biasa) dengan membaca :

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan : Do’a untuk jenazah anak – anak

dibaca sesudah takbir keempat :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَفَرَطًا وَأَجْرًا

 

IV. MENGUBURKAN JENAZAH

  1. Sesudah dishalatkan, bawalah jenazah itu ke kuburan dengan cepat – cepat ( segera ).
  2. Iringkanlah dengan berjalan sekelilingnya dan diam ( tidak berbicara )
  3. Jangan ada wanita yang mengiringi jenazah.
  4. Dan bila melihat jenazah lewat, baik muslim atau yahudi, maka berdirilah sehingga dia lewat atau diletakkan.
  5. Kuburlah jenazah dalam lubang ( kubur ) yang baik dan dalam.
  6. Buatlah galian lahat.
  7. Masukkan jenazah dari arah kaki kubur.
  8. ketika meletakkan jenazah dalam kubur bacalah :
    بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
  9. Yang turun ke dalam kubur adalah orang yang tidak junub tadi malam.
  10. Tutuplah dengan kain diatas kubur mayat wanita, sedang laki – laki tidak.
  11. Letakkanlah mayat itu menghadap kiblat.
  12. Kubur tidak boleh ditinggikan lebih dari sejengkal.
  13. Dilarang membuat tembok diatas kuburan.
  14. Boleh membuat tanda diatas kuburan, umpamanya dengan batu di arah kepalanya.
  15. Taburilah kubur dengan tanah dari arah kepala, bukan dengan bunga atau air.
  16. Larangan yang berhubungan dengan kuburan :
    Duduk sebelum jenazah diletakkan di dalam kubur( harus berdiri terus )
    Duduk diatas kuburan
    Berjalan diantara kuburan dengan memakai alas kaki
    Meninggikan kuburan lebih dari sejengkal
    Menembok ( membeton ) kuburan
    Menjadikan kuburan sebagai bangunan mesjid,dll.
    Menulisi kuburan dengan berbagai tulisan seperti nama keluarga,dll
    Semua yang menjurus ke arah syirik, seperti berwasilah kepada orang yang telah mati, minta restu pada orang yang telah mati, dll.

V. MELAWAT ( BERTA’ZIAH )

  1. Bila mendapat musibah atau mendengar musibah, maka ucapkan :

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ *   اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا   *

Sesungguhnya kami milik Allah, dan dan kepadanya kami kembali. Ya Allah, berilah

aku pahala pada musibahku ini dan gantilah dengan yang lebih baik darinya.

  1. Lawatlah ( berta’ziah ) kepada ahli mayit, dan anjurkanlah bersabar.
  2. Jangan meratapi mayat, jangan pula menampar pipi, merobek pakaian dan meratap dengan ratapan jahiliyah.
  3. Tapi dibolehkan menangis( tanda bersedih hati )
  4. Buatkanlah makanan bagi kerabat mayat.
  5. Dan jangan berkumpul makan –makan di rumah musibah itu.

VI. ZIARAH KUBUR

  1. Pergilah berziarah ke kubur agar ingat akhirat.
  2. Jangan melakukan sesuatu di kuburan yang tidak diiznkan oleh Allah dan Rasulnya, seperti meminta – minta kepada mayat, dan menjadikannya perantara dengan Allah swt
  3. Bila kamu ziarah kubur, maka ucapkanlah :

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ   اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ ، وَلا تَفْتِنَّا بَعْدَهُم

Semoga selamat sejahtera bagimu, wahai rumah orang – orang mukmin, dan insya Allah kami akan menyusulkamu sekalian. Ya Allah, janganlah engkau menjauhkan kami dari pahala mereka, dan janganlah engkau timbulkan fitnah kepada kami sepeninggal mereka.

  1. Kemudian menghadaplah ke kiblat, dan berdo’a kepada Allah, dengan meminta ampun dan ‘afiat bagi mereka.
  2. Janganlah orang perempuan sering ziarah kubur.
  3. Jangan ziarah kubur hanya mengkhususkan pada waktu – waktu tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau sekitar Idul Fitri.

Silahkan dibagikan ke kerabat Anda kalau Anda merasa artikel ini bermanfaat.