fbpx
Home Sejarah Islam Sejarah Celana Panjang: Dari Persia ke Arab Era Nabi Muhammad

Sejarah Celana Panjang: Dari Persia ke Arab Era Nabi Muhammad

Sejarah Celana Panjang
Sejarah Celana Panjang

Sejarah Celana Panjang – Jauh sebelum celana cingkrang jadi polemik di Indonesia, celana panjang sudah dikenakan suku nomaden Iran, Scythia, sejak milenium ke-2 sebelum Masehi. Busana penunggang kuda itu juga dipakai oleh orang-orang Kekaisaran Persia.

Yedida Kalfon Stillman dalam karyanya, ‘Arab Dress: A Short History, From the Dawn of Islam to Modern Times’, menjelaskan perihal busana yang dikenakan orang Arab sebelum Nabi Muhammad SAW. Dia mengutip sejarawan era Yunani kuno bernama Herodotus yang hidup pada tahun 484-485 sebelum Masehi (SM).

Herodotus mengamati orang-orang Arab Nabatea yang wilayahnya pada saat ini merentang dari Hijaz Arab Saudi hingga Damaskus Suriah. Orang Arab pada era itu mengenakan izar atau kain pendek yang diikat dengan ikat pinggang.

Adapun patung dari Kerajaan Lihyan di utara Hijaz memperlihatkan penguasa kerajaannya bertelanjang dada. Busananya juga menunjukkan kemiripan dengan pakaian ihram yang digunakan muslim saat ibadah haji.

Busana masyarakat Arab pra-Muhammad telah dipengaruhi oleh budaya-budaya tetangganya yang lebih besar, yakni budaya Persia dan Yunani-Romawi. Orang Arab yang tinggal di Suriah mengenakan busana gaya Yunani-Romawi. Sedangkan penguasa Arab di Hatra (290 km barat laut Baghdad saat ini) mengenakan busana gaya Persia, termasuk celana ala Persia.

Artinya, celana panjang diprediksi sudah dikenal oleh orang Arab sebelum muslim menaklukkan Kekaisaran Sassaniyah, penguasa terakhir Persia pra-Islam. Selain busana dengan pengaruh Persia atau Yunani-Romawi, tentu ada busana khas Arab yakni yang dikenakan suku Badui, berupa kain pembungkus badan yang longgar (tidak ketat).

Pada massa pra-Muhammad, orang Arab punya kebiasaan flamboyan menjuntaikan busananya sampai tanah. Puisi pada era pra-Islam sering mendeskripsikan kain seseorang yang diseret di tanah pada masa damai, masa sejahtera, dan saat pesta pora. Salah satunya adalah karya Amr bin Qami’a, yang meratapi masa mudanya yang hilang.

“Saat aku menyeret rayt (kain mewah dan halus sebagai aksesori) dan mirt (pakaian bawahan)-ku ke penjaja anggur terdekat seraya menyibakkan rambut ikalku,” demikian penggalan puisi karya Qami’a.

Penyair Ta’abbata Sharran juga berpuisi menggambarkan keluwesan dalam pergaulan para tentara saat kumpul bareng anggota sukunya. “Di antara sukunya dengan kain yang terseret dan rambut hitam yang terurai,” demikian kutipan puisinya.

Islam datang dan kain yang tidak melebihi mata kaki dinyatakan lebih baik. Kain yang lebih pendek menandakan sikap asketis (tidak lekat dengan duniawi), sedangkan kain yang lebih panjang menandakan sikap bebas.

Era Nabi Muhammad

Nabi Muhammad lahir pada 571 M dan wafat pada 632 M. Saat itu, masyarakat desa mengenakan pakaian dasar seperti yang dikenakan pengembara Badui juga. Prinsipnya adalah sederhana, fungsional, dan cocok untuk kondisi lingkungan.

Adapun celana panjang pada masyarakat Arab sudah dikenal, sebutannya adalah ‘sirwal’. Istilah sirwal berasal dari Persia kuno, ‘zarawaro’. Sementara di Persia modern disebut ‘shalwar’, dan pada perkembangan selanjutnya istilah ini diserap ke bahasa Melayu sebagai ‘seluar’.

Sirwal sudah dikenakan masyarakat Arab tak hanya oleh kaum Adam, namun juga kaum Hawa pada saat itu. Dijelaskan Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah yang mengutip Kitab Al Jami’ Ashshaghier karya Imam As-Suyuthi, Nabi menahan pandangannya dari perempuan yang terjatuh dari hewan tunggangannya. Seorang sahabat kemudian meyakinkan Nabi bahwa perempuan tersebut mengenakan sirwal, akhirnya Nabi mendoakan agar Allah merahmati perempuan-perempuan yang mengenakan sirwal.

Apakah Nabi Muhammad sendiri mengenakan sirwal pada zaman itu? Yedida dalam karyanya mengatakan sebagian ada yang menyatakan ‘ya’, dan sebagian ‘tidak’.

Abu As-Syaikh Al-Ashbahani dalam buku ‘Meneladani Akhlak Nabi’ menjelaskan bahwa Nabi pernah membeli celana. Dalam hadits riwayat Ibnu Majjah dijelaskan, Ibnu Shafwan RA menuturkan bahwa dia mendatangi Rasulullah di Mekah sebelum Rasulullah berhijrah. Kemudian, Ibnu Shafwan menjual beberapa potong celana panjang kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menimbangnya.

Suwaid Ibn Qais juga berkata demikian, bahwa dia dan Makhramah al-Abdi membawa kain katun (dagangan) dari Kota Hajr ke Kota Mekah. Kemudian Rasulullah SAW mendatangi mereka dan membeli beberapa potong celana panjang.

Namun ada catatan kaki dalam buku ini bahwa hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah membeli celana panjang tersebut adalah rancu (mudhtharib). Dalam hadis Ibnu Majjah juga dijelaskan, celana itu dibeli oleh ayah Shafwan dari Nabi Muhammad, bukan dibeli Nabi Muhammad dari Shafwan

Pakaian kesukaan Rasulullah
Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan bahwa Nabi mengenakan gamis, yakni baju panjang menyerupai kemeja dengan potongan longgar. Gamis terus dikenakan orang Arab hingga era saat ini.”Rasulullah dan masyarakat Arab pada waktu itu memakai gamis seperti halnya kebanyakan masyarakat Madinah sekarang,” tutur Dadan saat berbincang, Minggu (3/11/2019).

Soal busana, Rasulullah Nabi Muhammad SAW punya kesukaan. Dadang menyampaikan Hadis Riwayat Tirmidzi Nomor 1686. Berikut ini bunyi hadisnya:

“Telah menceritakan kepada kami (Ali bin Hujr) berkata, telah mengabarkan kepada kami (Al Fadhl bin Musa) dari (Abdul Mukmin bin Khalid) dari (Abdullah bin Buraidah) dari (Ummu Salamah) ia berkata, Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah gamis.”

Saat memasuki periode Kekhalifahan Abbasiyah (mulai 750 M), gaya busana Arab, Iran-Turki, dan Romawi Mediterania semakin bercampur.

Budaya busana Persia sangat diadopsi, ini karena ibu kota Abbasiyah, yakni Baghdad, sangat dekat dengan Ibu Kota Sasaniyah Persia yang telah hancur, yakni Ctesiphon/Tisfon.

Sejak saat itu, model celana longgar (sirwal) pria kelas atas dilengkapi dengan tikka, kain ikat pinggang dari sutra. Adapun pria kelas bawah, seperti buruh, hanya mengenakan sirwal saat bekerja, sering tanpa atasan. Sedangkan nelayan biasanya bekerja mengenakan tubban (celana pendek) saja.

Baca Juga:
Perjalanan Celana Panjang Sebelum Era Islam: Dipakai Suku Iran, Dilarang Roma
Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Tidak Bermadzhab Tetapi Bermanhaj