oleh

Muhammadiyah dan NU, Mana yang Lebih Nusantara?

Kedua Ormas ini besar kontribusinya bagi bangsa Indonesia, keduanya mempunyai cara tersendiri untuk tetap eksis dalam membangun Indonesia.

Seperti Muhammadiyah konsisten dalam mencerdaskan bangsa melalui AUM (amal usaha Muhammadiyah) yang sudah berdiri dari sabang sampai merauke dan jumlahnya sangat fantastis, begitu juga dengan NU yang menjadikan pesantren sebagai ujung tombak dakwahnya dan jumlahnya sangat banyak.

Belakangan ini baik Muhammadiyah maupun NU mengenalkan ciri khas dakwahnya dengan kata-kata atau kalimat yang menjadi platform pergerakannya.

Seperti Muhammadiyah yang akrab dengan Islam berkemajuan dan NU Islam Nusantara, yup keduanya sama-sama memberikan sesuatu yang unik dan menarik. Tapi melihat perkembangannya Muhammadiyah sepertinya konsisten dengan platform Islam berkemajuan yang konon ini diusung sendiri oleh pendirinya K. H Ahmad Dahlan.

Kekonsistenan itu bisa dilihat dari AUM (amal usaha Muhammadiyah) yang terus menerus memperlihatkan kemajuan baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Lain dengan NU yang dakwahnya hanya sebatas uforia, doktrin dan acara-acara Ceremonial saja.

Dari situlah keduanya terlihat mana yang lebih Nusantara apakah Muhammadiyah atau NU?

Kalau belakang ini kebanyakan dari warga NU yg disinyalir alergi dengan budaya kearab-araban yang sebenarnya itu merugikan warga NU sendiri, contoh saja pendiri NU K. H Hasyim Asy’ari yang pakaian nya itu kearab-araban lengkap dengan sorban, bahkan di NU kebanyakan Kiayi nya itu mempunyai nama kearab-araban.

Lain dengan Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta kental dengan aroma Keraton yogyakarta, bahkan K. H Ahmad Dahlan yang bernama asli Muhammad darwis ini adalah Abdi dalem keraton, tidak hanya itu beliau kalau kita jumpai di fotonya yg sangat Indonesia sekali dimana tutup kepalanya yang beliau kenakan adalah kain batik.

Begitupun generasi penerusnya yang sangat Nusantara sekali baik nama dan cara berpakaian nya, contoh ki Bagus hadikusumo, K. H mas mansyur sampai kader Hizbul wathon yang menjadi pahlawan TNI pertama jendral Soedirman akrab sekali dengan blangkon.

Dalam hal ini berbeda sekali dengan NU yang sebenarnya mereka itu kental sekali dengan gaya arabnya, sorban nya, gamisnya, bahkan lagu-lagunya atau syair qasidah yang sangat kearab-araban sekali. Ini menjadi boomerang bagi NU agar disetiap dakwahnya jangan lagi mengindikasikan anti Arab.

Jika flashback ke zaman pendirian NU juga meminta legalitas Arab saudi, dimana pada waktu itu ada berita makam nabi Muhammad akan dibongkar, tentu ini adalah berita yang sangat ganjil, mana mungkin pemerintah Arab membongkar makam Nabi.

Tapi seiring berjalannya waktu NU mencontoh Muhammadiyah dengan ikut berkontribusi membangun lembaga pendidikan walaupun manajemennya tidak seperti Muhammadiyah, NU jg sudah tidak malu malu lagi untuk memodernisasi dakwahnya. Berbeda dengan Muhammadiyah yang berdiri karena mencerdaskan bangsa.

Artikel ini tidak bermaksud membenturkan keduanya, tapi sebagai muhasabah karena belakangan ini banyak yang mengaku ngaku paling Nusantara, paling Indonesia, merasa paling berjuang, paling santri dll.

Mari kita belajar untuk selalu fokus meneruskan apa yang telah di berikan oleh founding father kita demi kemajuan bangsa Indonesia.

Tidak perlu menonjolkan siapa paling NKRI, paling Indonesia, paling Islami, paling banyak berjuang. Apa tidak Malu sama K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari. Sementara perjuangan kita tak sebanding dengan beliau beliau.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi