fbpx
Home Nasional Mengapa Muhammadiyah Sangat Diterima di Papua?

Mengapa Muhammadiyah Sangat Diterima di Papua?

muhammadiyah di papua

Empat Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) telah berdiri  di Papua. Di Provinsi yang mayoritas bukan pemeluk Islam ini, Muhammadiyah dapat tumbuh dan besar serta dapat diterima di Papua.

Muhammadiyah terus menjaga kehidupan beragama dan semangat toleransi antarumat yang ada di Indonesia Timur. Toleransi secara otentik dite­rapkan Mu­ham­madiyah, termasuk di Indonesia Timur yang sebagian besar mahasiswa merupakan non-Muslim.

Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, Rustamaji menilai, ada dua alasan utama Muhammadiyah di Papua sangat diterima masyarakat Papua.

“Ala­sannya, pertama karena semua orang di Papua itu kenal Muhammadiyah,” kata Rustamaji, pada pertengahan Juli laly,

Alasan kedua, karena orang-orang di Papua melihat PTM/A di Jawa begitu profesional, sehingga ada kesimpulan kalau dalam mengelola pendidikan Muhammadiyah lebih profesional.

Ia kemudian memberikan contoh betapa para suster-suster dan biarawati-biarawati ikut menjadi mahasiswi dan hal tersebut sudah menjadi pemandangan biasa.

“Maka itu, jangan kaget kalau mereka memang lebih hafal dengan Sang Surya yang merupakan mars Muhammadiyah,” terang Rustamaji.

Baca Juga: Panti Muhammadiyah ini Bertahan dari Warung Makan dan Pertamini

STKIP Muhammadiyah Sorong, lanjut dia, memiliki kearifan lokal, memahami karakter dan budaya anak-anak Papua dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.

Jadi, semisal di Jawa ada batas pembayaran untuk pendaftaran, mereka di STKIP Sorong sudah biasa mendaftar sebelum mem­bayar.

“Ada yang sampai wisuda masih belum lunas, ini salah satu bentuk kearifan lokal, dan kita harus sadar kita ada di mana, jadi tidak boleh semata-mata mengejar profit,” ujar Rustamaji.

Baca Juga: Tiga Tahap Muhammadiyah Usung Pendidikan Islam Berkemajuan

STKIP Muhammadiyah Sorong  berdiri sejak tahun 2004, dan pada 2016 sudah resmi menyandang akre­ditasi institusi satu-satunya dengan peringkat B di Papua Barat.

Kampus tersebut memiliki mahasiswa 3.000 orang lebih, mereka masuk ke Cluster Madya untuk PTS se-Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Barat.

Jika dilihat di BAN-PT, STKIP Muhammadiyah Sorong salah satu dari 350-an PTS yang terakreditasi institusi B dari 4.000-an PTS dengan status PT termuda di Indo­nesia.

Ada sembi­lan program studi ya­itu Ba­hasa dan Sastra In­do­nesia, Ing­gris, Bio­­logi, Mate­ma­tika PPKN, PGSD, PJ­KL IPA dan Teknologi Informasi.

“Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sorong sekitar 70 per­sen non-Muslim dan tidak pernah terjadi semacam konflik antara mahasiswa apa­lagi masalah agama,” kata Rusta­maji.

Ia menegaskan, mereka tetap mengikuti UU Pendidikan yang mengatur mahasiswa itu harus mendapatkan mata kuliah agama sesuai agamanya dan dari dosen yang sesuai keya­kinannya. (Sumber)

Baca Juga:
Tahukah Kamu 92 % Murid di SMK Muhammadiyah Serui Beragama Nasrani
Tokoh Sebelah: “Daripada Muhammadiyah Berdiri, Lebih Baik Kristen Berkembang”
Gus NU: Belajarlah dari Muhammadiyah