fbpx
Home Kisah Muslim Kisah Zaid bin Haritsah, Sahabat Nabi yang Diabadikan Dalam Al-Qur’an

Kisah Zaid bin Haritsah, Sahabat Nabi yang Diabadikan Dalam Al-Qur’an

Kisah Zaid bin Haritsah

Kisah Zaid bin Haritsah – Ada sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat istimewa, sampai-sampai namanya diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran. Dia bernama Zaid bin Haritsah. Siapakah dia? Kenapa dia sampai diabadikan dalam kitab suci Alquran?

Zaid bin Haritsah (dikenal juga sebagai Abu Usamah) merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang paling mulia. Sejarah mencatat ia merupakan satu-satunya sahabat Rasulullah yang Allah abadikan dalam surah Al Ahzab ayat 37.

Bahkan beberapa hukum syariat islam ikut berkenaan dengan kisah hidupnya. Zaid bin Haritsah juga  satu-satunya sahabat yang pernah diangkat Rasulullah SAW menjadi anak angkat (mutabanna), sehingga ia juga mendapat panggilan Zaid bin Muhammad.

Semua detail diatas termaktub dalam kitab Usd al-Ghabah karya Imam Ibnu Atsir.

Berikut surat Al-Ahzab ayat 37 yang membahas kisah seorang Zaid bin Haritsah:

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Zaid bin Haritsah pernah mengalami dilema kehidupan yang berujung perceraian pada pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy. Zainab adalah seorang perempuan dari keluarga terpandang kaum Quraisy dari suku As’ad. Kelak, setelah bercerai dengan Zaid bin Haritsah, Zainab pun dinikahi oleh Rasulullah SAW.

Barangkali muncul pertanyaan di benak pembaca, kenapa hal itu bisa terjadi? Kok bisa Rasulullah menikahi mantan istri dari anak angkatnya?

Sebelum berpikiran yang macam-macam. Kita harus ingat apapun yang dilakukan oleh Rasulullah selama hidup, beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT. Jadi alasan Rasulullah menikahi Zainab, mantan istri Zaid bin Haritsah tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Perintah Allah untuk menikahi Zainab bertujuan untuk menghilangkan tradisi orang Arab dan Yahudi yang ketika itu melarang seorang bapak menikahi mantan istri dari anak angkatnya.

Skenario pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Zainab sengaja dirancang Allah SWT untuk menghindari perkiraan orang-orang akan datangnya nabi setelah Rasulullah. Sebab apabila Zaid bin Haritsan dan Zainab memiliki anak, orang akan mengira bahwa keturunan mereka akan mewarisi sifat kenabian dari Nabi Muhammad SAW, sebab Zaid sendiri adalah anak angkat Rasulullah.

Lebih daripada itu, penisbatan nama kepada orang yang bukan orang tua kandung memiliki potensi untuk merusak sistem keturunan seseorang. Bahkan berpotensi mengacaukan sistem penentuan warisan dan perkawinan.

Masa Kecil Zaid bin Haritsah

Zaid bin Haritsah merupakan keturunan dari suku Bani Mu’in, ibunya seorang wanita bernama Su’da binti Tsa’labah. Tidak ditemukan keterangan yang jelas mengenai tahun kelahirannya, namun Zaid bin Haritsah wafat pada tahun ke-8 Hijriah ketika ia bertugas menjadi panglima dalam perperangan Mut’ah.

Pada masa jahiliyah, ibu Zaid hendak mengadakan kunjungan ke kampung halamannya, kampung Bani Mu’in. Namun tanpa diduga, tentara berkuda Bani al-Qin bin Jusr menyerang kampung Bai Mu’in dan merampas serta menawan apapun yang berharga dari kampung tersebut, termasuk Zaid bin Haritsah yang masih kecil.

Ia kemudian dijadikan budak belian. Zaid dibawa ke pasar Ukazh dan dijual senilai 400 dirham kepada Hakim bin Hizam bin Khuwailid, untuk bibinya Siti Khadijah bin Khuwailid.

Pada saat Siti Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad (saat itu Muhammad belum menjadi rasul), Zaid pun dihadiahkannya kepada Nabi. Setelah bergaul beberapa lama, hubungan keduanya menjadi sangat akrab dan saling menyayangi, walau Zaid ketika itu masih berstatus sebagai seorang budak.

Lama-kelamaan berita itu terdengar oleh bapak Zaid yang kebetulan juga tengah mencari anaknya. Setelah bertemu dan mengutarakan apa yang dia inginkan kepada Nabi, akhirnya beliau tidak bisa berkata apa-apa melainkan memberikan keputusan sepenuhnya kepada Zaid, yaitu antara memilih tinggal bersama rasul atau pulang ke rumah orangtuanya.

Namun Zaid memutuskan untuk tetap tinggal bersama Nabi dan semenjak itulah Nabi memproklamirkan Zaid sebagai anak angkatnya dengan nama Zaid bin Muhammad.

(Baca Juga: Keutamaan Ali bin Abi Thalib, Sang Gerbang Ilmu)

Fase Penting Terkait Zaid

Status Zaid yang “berorangtuakan” Muhammad hanya berlangsung beberapa tahun saja, karena setelah itu Allah melarang praktek pengadopsian anak dengan cara seperti itu di dalam surat al-Ahzab ayat 5 dan 37, serta menyatakan dengan tegas bahwa Nabi Muhammad bukanlah bapak dari laki-laki muslim manapun dalam surah al-Ahzab ayat 40.

Sebagai bukti lepasnya hubungan bapak dengan anak antara Rasulullah dengan Zaid pada waktu itu adalah dengan halalnya mantan istri Zaid yang bernama Zainab binti Jahsy untuk dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-5 hijriah yang sebelumnya terlarang dalam tradisi arab jahiliyah.

(Baca Juga: Kata Mutiara Islam Paling Bijak dari Utsman bin Affan)

Zaid Bin Haritsah dalam Kitab Hadis

Para ulama hadis sepakat menyatakan bahwa Zaid bin Haritsah adalah seorang sahabat yang adil. Ibnu Hajar menyebutnya dalam Tahdzib al-Tahdzib dengan Shahabiyyun Jalilun masyhurun (sahabat mulia yang terkenal).

Beliau meriwayatkan beberapa hadis langsung dari Nabi Muhammad SAW dan diantara sahabat yang meriwayatkan hadis darinya adalah Usamah bin Zaid (anak Zaid sendiri), Bara’ bin A’dzib, Jublah bin Haritsah (saudara laki-lakinya), Abdullah bin Abbas dan anaknya Ali bin Abdullah bin Abbas, Hudzail bin Syurahbil, dan Abu al-A’liyyah al-Rayyaahi.

Hadis-hadis Zaid bin Haritsah banyak terdapat dalam kitab Sunan Nasa’i dan Ibnu Majah. Itulah selintas mengenai kisah Zaid yang penulis ambil dari beberapa sumber, dengan harapan bisa diteladani perjuangan serta keagungannya. []

Semoga Kisah Zaid bin Haritsah ini dapat menambah keimanan kita. Wallahu ‘alam.