oleh

Kisah Perjalanan Haji Mansa Musa yang Mengubah Sejarah Dunia

BAGI seorang Muslim menjalankan ibadah haji adalah suatu kewajiban, tak terkecuali bagi orang terkaya dalam sejarah, Mansa Musa. Namun, perjalanan penguasa Kerajaan Mali itu ke Tanah Suci bukanlah perjalanan biasa, bahkan dikenal karena memiliki dampak besar pada sejarah dunia.

Mansa Musa adalah cicit dari Sunjata, pendiri Kerajaan Mali. Pada 1312, dia menjadi Raja Mali menggantikan pendahulunya, Abu Bakr II yang hilang saat melakukan perjalanan laut untuk menemukan tepian Samudera Atlantik.

Pada masa itu, Kerajaan Mali berkembang pesat karena sumber daya alam yang besar, termasuk emas dan garam. Di bawah pemerintahan Musa, kerajaan yang makmur itu tumbuh hingga menjangkau sebagian besar Afrika Barat, dari pantai Atlantik ke pusat perdagangan pedalaman Timbuktu dan beberapa bagian Gurun Sahara.

Seiring dengan perkembangan wilayah Mali, berkembang pula kemakmuran rakyat dan perekonomiannya.

Pada 1324, Mansa Musa seorang Muslim yang taat, pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah dan melakukan perjalanan yang membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Dia tidak pergi sendirian, tetapi membawa iring-iringan karavan beranggotakan puluhan ribu prajurit, budak, pembawa kabar dan harta benda luar biasa banyak. Panjang iring-iringan Sang Raja dikisahkan mencapai lebih dari 6.000 kilometer.

Perjalanan Mansa Musa ke Makkah. (Foto: Getty Images)

Menurut sejarawan Nehemia Levztion, Mansa Musa melakukan perjalanan menyusuri Sungai Niger ke Mema, lalu ke Walata, melalui Taghaza dan ke Tuat, yang merupakan pusat perdagangan di Afrika Tengah. Tentu saja iring-iringan besar Mansa Musa menarik perhatian di daerah-daerah yang dilewatinya, bahkan dampak dari melintasnya Mansa Musa di wilayah itu bisa dirasakan oleh penduduk setempat hingga beberapa dekade selanjutnya, terutama dampak pada perekonomian.

Ketika tiba di Mesir, Mansa Musa berkemah di dekat Piramida selama tiga hari. Dia kemudian mengirim hadiah sebesar 50.000 dinar kepada Sultan Mesir sebelum menetap di Kairo selama tiga bulan.

Sultan Mesir meminjamkan istana musim panasnya untuk Mansa Musa dan memastikan bahwa rombongannya diperlakukan dengan baik. Namun, dia Mansa Musa merasa enggan bertemu dengan Penguasa Kairo, Sultan Al Malik Al Nasir, bahkan setelah dibujuk oleh bawahan Al Nasir yang mengundangnya. Musa beralasan bahwa dia hanya melintas di Kairo dalam perjalanannya menuju ke Makkah.

Menurut naskah dari sejarawan Shihab al Umari, keengganan Mansa Musa karena menurut aturan, dia harus mencium tanah dan tangan Sultan saat bertemu. Ketika akhirnya Mansa Musa dapat dibujuk bertemu dengan Al Nasir, Mansa Musa menolak mencium kaki Sultan Mesir itu, membuat suasana pertemuan menjadi tidak harmonis dan baru menjadi tenang kembali setelah Mansa Musa berkompromi dengan memberi salam secara pantas kepada Al Nasir, dan mengumumkan bahwa jika dia harus bersujud ketika masuk ke istana, maka dia hanya akan melakukannya di hadapan Allah SWT.

Dari pasar Kairo ke kantor kerajaan, Kaisar Mali  Musa menunjukkan kedermawanannya dengan membeli barang-barang asing, memenuhi jalan-jalan di Mesir dengan emas. Mansa Musa membagikan ribuan emas batangan, dan pedagang Mesir mengambil keuntungan dari sang raja dengan mengenakan harga lima kali harga normal untuk barang-barang mereka.

Meskipun niatnya baik, hadiah emas Mansa Musa berdampak sangat besar dan membuat nilai logam mulia itu di Mesir turun hingga 25 persen, memukul perekonomian komunitas itu sehingga membutuhkan waktu 12 tahun untuk pulih.

Dalam perjalanan itu, Mansa Musa tidak hanya menjadi seorang dermawan, tetapi juga penakluk, dan memperoleh sejumlah teritori, memperluas wilayahnya sampai tepi selatan Gurun Sahara di sepanjang Sungai Niger. Dia kemudian memiliki kerajaan yang membentang beberapa mencakup sejumlah besar wilayah, termasuk Senegal, Gambia, Guinea, Niger, Nigeria, Chad, dan Mauritania saat ini, selain juga Mali.

Daerah Gao, yang saat ini terletak di wilayah Mali modern, adalah wilayah yang penting bagi Mansa Musa. Di sini dia membangun salah satu dari beberapa masjid setelah menyelesaikan haji.

Selain Gao, Timbuktu juga merupakan kota penting bagi sang raja yang kaya, yang menggunakan kekayaannya untuk membangun sekolah, universitas, perpustakaan, dan masjid di sana. Pusat perdagangan yang berkembang itu adalah tempat Musa menugaskan pembangunan Masjid Djinguereber, masjid terkenal yang dibangun dari bata lumpur dan kayu yang telah teruji oleh waktu, tetap aktif selama lebih dari 500 tahun.

Kekayaan dan pengaruh Musa baru menyebar ke luar Afrika setelah perjalanannya ke Makkah. Kisah-kisah tentang konvoi dan kemurahan hatinya yang sangat besar terus diceritakan jauh setelah dia meninggal dunia, yang diyakini telah terjadi antara 1332 dan 1337.

Atlas Catalan 1375 Mansa Musa. (Foto: Wikimedia Commons)

Perjalanan haji Mansa Musa I memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan Islam di Mali dan pada persepsi Mali di seluruh Afrika dan Eropa. Perjalanan terkenal itu tercatat dalam banyak sumber sejarah baik Muslim mau pun Non-Muslim, dari Afrika Barat mau pun Mesir.

Pada akhir abad ke-14, Mansa Musa telah dilukis ke dalam Atlas Catalan 1375, sumber informasi penting untuk navigator dari Eropa Abad Pertengahan. Atlas Catalan 1375 diciptakan oleh kartografer Spanyol, Abraham Cresques, atlas tersebut menggambarkan Musa duduk di atas takhta dengan tongkat dan mahkota emas, memegang bongkahan emas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi