fbpx
Home Dakwah Kisah Hijrah Sakti Sheila on 7, dari Musisi ke Pendakwah

Kisah Hijrah Sakti Sheila on 7, dari Musisi ke Pendakwah

sakti sheila on 7
sakti sheila on 7

Hati Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama Sakti. Sedari siang Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa dihubungi.

Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada didaerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.

Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari.

Kegiatan yang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah
dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna
berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara ihklas kepada Allah
SWT.

Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung Berung namun pada
hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang jaraknya tidak terlalu
jauh.ng lain.

Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih.
Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu
menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.

Selepas sholat Ashar , Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal.

Sesaat kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.

Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila
on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain.

Mengawali karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album
lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 )
dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat
orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik
tanah air waktu itu.

Di setiap sudut negeri, lagiu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja.

Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di setiap show Sheila.

“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti
yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut
seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi
kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia
merasa harus lebih banyak belajar.

Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ”Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau
apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi kita, maka
kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti
almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa
kebutuhan Allah abeg dirinya, ” ujar Sakti lagi.

Maut dan Pakistan

Sakti memetik cahaya hidayah di kotaa Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun
lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima
penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk
ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul
“Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim
kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau
pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti
jadinya,” ujarnya mengenang.

Buku itu lalu ia beli dan ia bawa
kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena
mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil.
Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang
menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara
kematian.
Rentetan peristiwa itu membuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.

“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia
seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di
akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam
pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh pengetahuan betapa
dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan
disana.

“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu
sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada
artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan
sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua
kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan
dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.

Hal itu
menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai
tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain.
Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang
rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti
mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.

“Kan tidak mungkin
tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” ujar ayah
Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) ini
menegaskan.
Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa
Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7,
posisi yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa
dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke
masjid untuk berdakwah.

Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan
segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa
pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian
merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006
lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia
keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.

“Saya
ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama
dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga
dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil
menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa
disana.

Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan.
bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain
sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus
diwujudkan dalam konteks ini? bagimana rahmat bagi seluruh alam yang
menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta
Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer
kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan
tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.

Jalan Menuju Kekasih Allah
Hubungan
karib dengan teman dan para penggemar memembuat dua pihak inilah yang
paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang.
Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian
bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama
yang dikirim khusus untuknya.
Sampai saat ini, Sakti mengaku masih
sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila
gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut.
Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih
saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis
karier dari Yogyakarta itu.

“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah,” ujarnya.

beberapa
kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua diantaranya
saat konser di sebuah sbegiun swasta dan konser 1000 Gitar yang
diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa
gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono ( God Bless ) , Eet
Sjahranie ( Edane ) dan Teguh ( Coconut Treez ) itu, turut dimeriahkan
Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros membawakan lagu
Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan menggunakan baju
muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.

Dengan seorang
temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang ia
harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album
kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang
Rabb.

“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan
penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album
itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.

Lalu seberapa
bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid.
Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya,
semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita
tahu kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan
Allah ia akan tenang dan bahagia.

“Dulu saya tak tahu dimana harus
bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan
hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita
sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha
penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang
paling tepat”, ujarnya pasti.
Dalam hidup, menurutnya manusia
mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian
mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula
dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada
Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.

“Itu
kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar
mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya.
Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita,
apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka
hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi
kotor,” ujarnya lagi.

Bagi Sakti, ketenangan itu adalah fitrah yang
dicari semua orang di dunia. Tak ada jalan lain meraih itu selain
mendekatkan diri kepada Allah, karena Dialah sumber kebahagiaan. Dan
pendekatan itu harus dibuktikan dengan amal, harus dicicipi oleh
pribadi-pribadi yang memang menginginkan itu.

Untuk menghidupi
keluarganya, Sakti membuka sebuah minimarket dan jasa Laundry. baginya
itu sudah cukup, sekalipun jika dibandingkan dengan uang yang ia peroleh
semasa menjadi artis tentulah tak seberapa. Jalan hidupnya saat ini
adalah sebuah ketentuan-Nya yang ingin selalu istiqomah ia jalani.

“Selalu
akan ada ujian dan friksi, tapi bagi saya itu adalah jalan agar saya
selali istiqomah. Ini barangkali sudah takdir. Jika dulu saya sering
pegang gitar sekarang jadi sering pegang begbih,” ujarnya sambil
tersenyum.

Tak ada harapan di hatinya selain bisa terus lebih dekat
dengan-Nya dan semakin tahu apa yang Allah kebutuhani abeg hidupnya.
Harapan yang juga pernah dipesankan oleh seorang penggemar kepadanya, ”
Semoga Mas Sakti jadi kekasih Allah….”, Amin ya Robbal Alamien.

Sumber : Majalah Hidayah Edisi 85, September 2008