KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah Pendiri Muhammadiyah

128
ahmad dahlan muda

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

KH. Ahmad Dahlan adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Latar belakang keluarga dan pendidikan

Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.

Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.

Di samping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

KH. Ahmad Dahlan meninggal pada tahun 1923 dan dimakamkan di pemakaman KarangKajen, Yogyakarta

Pengalaman Organisasi

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.

la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya.

la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain.

Saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914.

Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Maka dari itu kegiatannya dibatasi.

Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda.

Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut.

Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.

Berbagai perkumpulan dan jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, di antaranya ialah Ikhwanul-Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.

Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur van Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katolik. Pada saat itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.

K.H. Ahmad Dahlan yang mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy adalah seorang pahlawan nasional yang juga pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Ia bergabung sebagai anggota Boedi Oetomo yang merupakan organisasi kepemudaan pertama di Indonesia.

Ia adalah sosok pemuda pembaharu yang sangat mengedapankan idealisme dalam hidupnya terutama dalam bidang pendidikan. Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya.

Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah.

Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah.

Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).

Pengalaman Jurnalistik Ahmad Dahlan

Tidak banyak yang tahu kiprah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dalam dunia pers pergerakan. Bahkan, Buya Syafii Maarif pernah menegaskan bahwa sosok pendiri Muhammadiyah ini tidak pernah meninggalkan karya tulis, lebih mengutamakan aksi ketimbang teori. Betulkah demikian?

Wajarlah jika para peneliti Muhammadiyah menempatkan sosok Kiai Ahmad Dahlan sebagai seorang pragmatis. Namun, secuil informasi yang akan penulis sampaikan dalam artikel ini, setidak-tidaknya, akan mengubah persepsi terhadap sosok Kiai Ahmad Dahlan. Mengapa?

Sebab, Khatib Amin—jabatan fungsional Kiai Ahmad Dahlan dalam struktur Kepenghuluan Kraton Yogyakarta pada awal abad ke-20—justru mengisi struktur kontributor tulisan di majalah Medan-Moeslimin tahun 1920-an.

Nama pendiri Muhammadiyah ini juga secara eksplisit tertera dalam struktur redaksi Suara Muhammadiyah tahun 1915. Berperan sebagai kontributor atau redaktur media massa, sudah barang tentu Kiai Ahmad Dahlan punya tugas untuk menulis.

Sisi lain KH. Ahmad Dahlan

Selama ini, umat Islam di Indonesia pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya lebih mengenal sosok Kiai. Ahmad Dahlan sebagai ulama besar.

Padahal, Tibamin—akronim dari Khatib Amin—memiliki catatan karir profesional yang belum banyak diungkap, baik oleh para peneliti Muhammadiyah dari dalam maupun luar negeri. Karir profesional Kiai Ahmad Dahlan yang belum banyak diketahui adalah posisinya sebagai seorang wartawan.

Perjalanan karir ini dapat dilacak ketika Kiai Ahmad Dahlan terlibat di beberapa media massa di tanah air pada masanya.

Tibamin, begitu warga kampung Kauman menyapa Kiai Ahmad Dahlan, adalah Khatib Amin Masjid Agung Yogyakarta. Ia putra keempat dari tujuh bersaudara putra-putri KH. Abubakar. Lahir di Kauman pada tahun 1285 H (1868 M) dengan nama Muhammad Darwis (Junus Salam, 2009: 56).

Darwis lahir dan dibesarkan dalam kultur Jawa bercorak santri. Ayahnya, Kiai Abubakar, adalah Khatib Amin Masjid Agung Yogyakarta. Kelak, setelah sang ayah meninggal dunia (1896), Darwis bakal menggantikan posisi ayahnya sebagai Khatib Amin. Sang ayah turut andil besar dalam menentukan pendidikan Darwis semasa kecil.

Selain belajar agama kepada sang ayah, Darwis juga menimba ilmu kepada KH. Muhammad Shaleh, KH. Muhsin, KH. Muhammad Nur, dan KH. Abdul Hamid. Layaknya anak-anak di kampung Kauman, ia pun hanya mendapat pendidikan agama saja. Memang tidak ada lembaga pendidikan umum di kampung Kauman. Jangankan mengenyam pendidikan umum layaknya para student atau leerling di sekolah-sekolah Belanda, meniru budaya kaum kolonial dianggap haram.

Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan umum, tetapi Darwis memiliki banyak kenalan dari kalangan intelektual pribumi. Sebut saja Raden Sosrosoegondo, guru bahasa Melayu yang mengajar di Kweekschool di Jetis.

Dari tokoh yang satu ini, Darwis belajar membaca dan menulis bahasa Melayu—cikal bakal bahasa Indonesia modern. Dengan demikian, Darwis kecil tidak hanya belajar ilmu-ilmu agama saja, tetapi juga mengenyam pendidikan umum.

Pada tahun 1889, Darwis menikah dengan Siti Walidah, putri KH. Muhammad Fadhil, yang tak lain sepupunya sendiri. Beberapa bulan kemudian, ia menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya (1889). Sepulang dari tanah suci, ia sudah mengantongi sertifikat untuk mengganti namanya menjadi: Ahmad Dahlan.

Perjalanan haji kedua kalinya (1902) telah memantapkan hatinya. Ia menyempatkan diri untuk mempelajari gerakan pembaruan Islam di Mekkah dan Mesir.

Atas jasa KH. Baqir, saudara sepupunya yang telah lama menetap di Mekkah, Tibamin berhasil bertemu dan berdialog langsung dengan Rasyid Ridla, salah seorang tokoh pembaru Islam dari Mesir (Djarnawi Hadikusumo, t.t.: 64).

Sepulang dari tanah suci, Tibamin memutuskan untuk terjun dalam dunia pergerakan lewat Budi Oetomo (BO), Sarekat Islam (SI), dan mendirikan Muhammadiyah (1912).

Sang Wartawan

Pada awal abad 20, dunia pergerakan tidak dapat dipisahkan dari dunia pers. Setiap perkumpulan memiliki orgaan (surat kabar) yang menjadi corong gerakan. Ketika memutuskan terjun dalam dunia pergerakan, Kiai Ahmad Dahlan pun harus menekuni dunia pers.

Ia bersama murid-muridnya merintis penerbitan surat kabar bulanan yang pertama kali terbit tahun 1915. Surat kabar tersebut bernama Soewara Moehammadijah.

Berdasarkan dokumen Soewara Moehammadijah nomor 2 tahun 1915 (Dzulqaidah 1333 H), nama Kiai Ahmad Dahlan tercantum dalam susunan redaksi. Selaku Hoofdredacteur (pemimpin redaksi) H. Fachrodin.

Adapun jajaran redaksi sebagai berikut: H.A. Dahlan, H.M. Hisjam, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito, dan R.H. Hadjid. Pengelola administrasi: H.M. Ma’roef dibantu Achsan B. Wadana.

Sebagai tokoh senior yang duduk di jajaran redaktur, sudah dipastikan Kiai Ahmad Dahlan turut andil dalam mengisi majalah ini. Artikel bersambung karangan Tibamin yang dimuat di Soewara Moehammadijah nomor 2 tahun 1915 berjudul ”Agama Islam” (artikel ditulis menggunakan bahasa Jawa). Di akhir tulisan terdapat identitas penulis menggunakan inisial ”AD.”

Menurut H. Ahmad Basuni, inisial ”AD” disinyalir sebagai Ahmad Dahlan (Suara Muhammadiyah no. 1 tahun 1990). Namun sayang, sambungan dari artikel ini belum ditemukan hingga kini. Dokumen Soewara Moehammadijah nomor 3 tahun 1915 yang mestinya berisi sambungan dari karangan K.H. Ahmad Dahlan belum ditemukan.

Alhamdulillah, pada akhir tahun 2016, penulis tanpa sengaja menemukan dokumen penting di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padangpanjang.

Dokumen tersebut adalah beberapa edisi majalah Soewara Moehammadijah terbitan tahun 1916 (bahasa dan huruf Jawa). Setelah melewati proses penerjemahan, ternyata benar bahwa Kiai Ahmad Dahlan memang rutin mengisi artikel di majalah ini.

Dalam dokumen Soewara Moehammadijah tahun 1916 ditemukan artikel “Agama Islam” sebanyak empat edisi yang ditulis oleh seorang penulis yang menggunakan inisial “H.A.D” yang tidak lain adalah “Haji Ahmad Dahlan.”

Kiprah Kiai Ahmad Dahlan di medan pergerakan memang sangat strategis. Terbukti, tidak hanya menjadi wartawan di Soewara Moehammadijah, tetapi ia juga dipercaya sebagai salah satu pembantoe redactie (kontributor) di majalah Medan-Moeslimin (terbit di Solo) untuk wilayah Yogyakarta.

Berdasarkan dokumen majalah Medan-Moeslimin tahun 1920-an, nama “M. Ketibamin Djokja” tercantum di halaman cover majalah ini. Dokumen ini tidak jelas menyebutkan nomor edisi dan tahun penerbitannya.

Tetapi, pada halaman cover sebelah kiri terdapat keterangan “redacteur H.M. Misbach dalam boei Klaten.” Dengan keterangan ini cukup jelas untuk membaca dokumen majalah ini karena Haji Misbach masuk penjara di Klaten pada tahun 1920-an.

Keterlibatan Kiai Ahmad Dahlan dalam penerbitan majalah Medan-Moeslimin karena faktor Haji Fachrodin. Ia sahabat karib Haji Misbach. Ketika tokoh revolusioner ini masuk penjara karena kasus pengerahan massa petani di Klaten, kendali redaktur majalah ini diambil alih oleh Haji Fachrodin. Sedangkan Haji Fachrodin sendiri adalah salah satu murid Kiai Ahmad Dahlan dan pemimpin redaksi (Hoofdredacteur) Soewara Moehammadijah pertama.

Namun demikian, tulisan-tulisan Kiai Ahmad Dahlan di majalah Medan-Moeslimin hingga kini belum ditemukan. Dengan melihat peran dan fungsi sebagai seorang kontributor, sesungguhnya hal ini menjadi sebuah indikasi bahwa Kiai Ahmad Dahlan pernah menulis di media massa ini.

Sedangkan tanda-tana lain, dalam sebuah kesempatan penting, penulis berhasil mendapatkan sebuah informasi dari Ahmad Adaby Darban (alm.), bahwa Kiai Ahmad Dahlan memiliki sebuah kartu pers. Adaby Darban pernah membaca sebuah hasil penelitian sejarah yang memberikan informasi tentang Kiai Ahmad Dahlan yang memiliki kartu wartawan. Akan tetapi, hingga kini, dokumen penting ini belum ditemukan kembali.

Seandainya ditemukan, tentu akan banyak informasi yang dapat diperoleh. Misalnya, lembaga apa yang mengeluarkan kartu pers tersebut? Bagaimana peran lembaga tersebut dalam peta pergerakan nasional? Sejauh mana peran Kiai Ahmad Dahlan dalam lembaga tersebut?

Dengan membaca catatan sejarah perjalanan karir Kiai Ahmad Dahlan selama berkecimpung di dunia pers, baik di majalah Soewara Moehammadijah, Medan-Moeslimin, dan organisasi wartawan bumiputra pada waktu itu, sebenarnya banyak persepsi yang perlu diluruskan.

Selama ini, beberapa sejarawan dan peneliti Muhammadiyah berasumsi bahwa Kiai Ahmad Dahlan adalah figur pragmatis (dalam artian yang positif) atau man in action. Selama hidupnya, Tibamin tidak pernah meninggalkan karya tulis, baik dalam bentuk buku ataupun artikel. Ia tak lebih dari sosok yang mengutamakan aksi ketimbang berpikir.

Namun, persepsi tersebut dapat dimentahkan dengan penemuan dokumen-dokumen yang dapat menjelaskan keterlibatan Kiai Ahmad Dahlan dalam dunia pers. Dengan posisi sebagai seorang wartawan, bukankah ia harus menulis?

Pahlawan Nasional

Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.

Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:

  1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Netralitas Muhammadiyah

K.H. Ahmad Dahlan memiliki 8 orang anak dari istri-istrinya. Lahirlah 31 orang cucu dari garis keluarga ini, belum termasuk cicit dan seterusnya.

Maka tak heran bahwa trah Ahmad Dahlan menghimpun anggota keluarga yang cukup banyak, termasuk salah satu cicitnya, Jam’an, yang menyatakan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Sandiaga. Jam’an juga meminta kepada Sandiaga Uno agar lebih memperhatikan Muhammadiyah jika terpilih sebagai penguasa nanti.

Menurutnya, Muhammadiyah selama ini ditelantarkan pemerintah. “Tolong kepada Pak Sandi, Insya Allah kalau Allah menakdirkan Pak Prabowo dan Pak Sandi sebagai presiden kita, tolong gandeng tangan Muhammadiyah erat-erat,” harap Jam’an.

Muhammadiyah sendiri sudah menegaskan netral dalam Pilpres 2019 nanti, kendati tetap membebaskan warganya melabuhkan pilihan secara personal.

“Insya Allah [Muhammadiyah] netral aktif,” tandas Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Kamis (7/2/2019).

“Netral dalam arti tidak partisan di dalam percaturan politik ini. Aktif untuk menjaga dan merawat bangsa dan kontestasi ini agar berlangsung politik yang sehat, demokrasi, beretika dan menjunjung kebersamaan,” tambahnya.

Haedar mempersilakan warga Muhammadiyah menentukan dukungan di pilpres nanti, asalkan jangan membawa-bawa nama perhimpunan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan pada 1912 ini.

“Yang kami selalu tegur, jangan membawa nama institusi Muhammadiyah, bergeraklah sebagai kelompok-kelompok relawan, atau kelompok kepentingan yang sifatnya tidak membawa Muhammadiyah,” tegas Haedar.

Di sisi lain, pernyataan Jam’an mendapat respons dari mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi’i Maarif. Ia tidak mempersoalkan sokongan Jam’an kepada Prabowo-Sandi, namun tidak elok jika nama Muhammadiyah sebagai institusi turut dibawa-bawa.

“Ya tidak lah, Muhammadiyah secara organisasi itu ‘kan netral,” kata Buya Syafi’i. Guru besar ilmu sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menegaskan bahwa warga Muhammadiyah banyak dan beragam. Soal pilihan politik itu berbeda-beda, termasuk dirinya yang juga punya pilihan.

“Tidak ada cerita itu [mewakili Muhammadiyah]. Warga negara ‘kan bebas. Itu siapa? ‘Kan [warga] Muhammadiyah banyak sekali. Mereka punya pilihan masing-masing sebagai warga negara itu sah saja. Asal jangan memfitnah terpapar oleh kultur hoaks dan segala macam,” tegasnya.

Biodata Kyai Haji Ahmad Dahlan

Lahir: Yogyakarta,1 Agustus 1868
Wafat: Yogyakarta23 Februari 1923
Dikenal karena: Pendiri Muhammadiyah dan Pahlawan Nasional
Agama: Islam
Nama Istri:

  • Hj. Siti Walidah
  • Nyai Abdullah
  • Nyai Rum
  • Nyai Aisyah
  • Nyai Yasin

Anak:

  • Djohanah
  • Siradj Dahlan
  • Siti Busyro
  • Irfan Dahlan
  • Siti Aisyah
  • Siti Zaharah
  • Dandanah