fbpx
Home Nasional Meski Non Muslim, 2 Kepala Daerah di Papua Ini Merasa Kader Muhammadiyah

Meski Non Muslim, 2 Kepala Daerah di Papua Ini Merasa Kader Muhammadiyah

Kepala Daerah di Papua
Kepala Daerah di Papua

Muhammadiyah telah hadir melayani penduduk Indonesia sampai ke pelosok negeri, termasuk Papua. Provinsi paling timur di Indonesia itu pun tak luput dari perhatian Muhammadiyah, terutama dari segi pendidikan.

Tak hanya warga muslim, masyarakat non-muslim pun bebas belajar di sekolah maupun perguruan tinggi Muhammadiyah. Bahkan di beberapa sekolah, perbandingan nonmuslim dan muslim yang bersekolah di Muhammadiyah mencapai 90%.

Jadi dari 100 siswa di Papua atau NTT yang belajar di Muhammadiyah, hanya 10 orang yang muslim. Bahkan Muhammadiyah menyediakan guru agama Kristen untuk mereka yang beragama Nasrani.

Mendikbud Muhadjir Effendy bercerita bahwa di Papua ada 2 kepala daerah yang perilakunya seperti kadar Muhammadiyah, walaupun keduanya tidak beragama Islam. Kedua kepala daerah tersebut yakni Bupati dan Wali Kota Jayapura.

“Saya sering berkunjung ke Papua, di sana ada satu wali kota lulusan Muhammadiyah, ada satu bupati lulusan Muhammadiyah, yaitu Wali Kota Jayapura dan Bupati Jayapura,” kata Muhadjir saat menjadi keynote speaker di Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

“Dua-duanya beragama Kristen tetapi lulusan SMP Muhammadiyah. Kelakuannya, tindak tanduknya persis kader Muhammadiyah, dan dia merasa kader Muhammadiyah walaupun tidak beragama Islam,” lanjut mantan Rektor UMM ini.

Baca Juga: Hukum Nyanyian dan Musik Menurut Tarjih Muhammadiyah

Menurutnya, meski kedua kepala daerah tersebut beragama Kristen namun mereka menaruh hormat kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah. Tak hanya itu, cara berpikir dan keberpihakan mereka kepada Muhammadiyah disebut Muhadjir luar biasa.

“Jadi sering saya guyoni (ajak bercanda). ‘Pak wali, sampean ini sudah Muhammadiyah cuma satu saja yang kurang, yaitu Islam’. Jadi semua prilakunya sudah mencerminkan seorang kader Muhammadiyah,” tutur Muhadjir.

Muhadjir menjelaskan, prilaku kedua kepala daerah tersebut menurutnya adalah contoh keberhasilan lembaga pendidikan Muhammadiyah dalan mengajar murid-muridnya. Terutama dalam mengajarkan nilai-nilai keislaman.

“Kita berkeyakinan bahwa sebetulnya walaupun seorang itu tidak beridentitas muslim. Tetapi nilai-nilai keislaman bisa dia serap juga di dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Muhadjir berharap contoh yang ditunjukkan kedua kepala daerah di Papua tersebut bisa ditiru kadar Muhammadiyah. Semestinya kader Muhammadiyah yang beragama muslim memiliki standar moral yang berlaku di Muhammadiyah.

“Semestinya yang muslim, yang sekolah di Muhammadiyah harus betul-betul juga memiliki standar prilaku Muhammadiyah, dan itu harus ditanamkan melalui salah satunya adalah sejarah perjuangan, pergerakan Muhammadiyah,” pungkas Muhadjir.

Baca Juga:
Benhur Tomy Mano: “Berkat Muhammadiyah Saya Bisa Menjadi Walikota Jayapura”
Tahukah Kamu Ternyata Mohamad Salah Orang Muhammadiyah
Umat Nasrani Papua & NTT : Berkat Muhammadiyah Kami Bisa Sekolah