oleh

Jalan Tengah Pak AR Menyikapi Taqlid Buta dan Bid’ah

Tulisan ini berusaha mencari jalan tengah yang dibuat oleh KH Abdul Razak Fachruddin (Pak AR) dalam merawat persatuan dan mendudukan perbedaan terkait maraknya sikap mengkafir-kafirkan, membid’ahkan, dan dengan mudahnya melaknat sesama umat Islam yang semakin memperkeruh oase agama Islam.

Dalam persoalan bid’ah dan ajaran nir-ilmiah, Muhammadiyah sejak awal berdirinya sudah dikenal sebagai organisasi yang dengan tegas menolak perilaku Tahayul, Bid’ah dan Churafat (TBC). Semangat anti TBC dan taqlid buta yang diperankan oleh Muhammadiyah sebagai upaya mengembalikan atau memurnikan ajaran Islam yang sesuai dengan al Qur’an dan as Sunnah.

Namun, cara yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam memberantas TBC memiliki ciri khas. Ciri khusus tersebut seperti yang dijelaskan oleh Pak AR Fachruddin.

Berikut penjelasan Pak AR ketika ditanya terkait: pertama, orang yang taqlid buta kepada alim ulama dan yang kedua, persoalan kaum muslim yang menjalankan bid’ah, jawaban tersebut dirangkum dalam buku yang diterbitkan PT BP Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 1995 yang berjudul “Pesan dan Warisan Pak A.R”.

Menjawab pertanyaan pertama : untuk tiada memperuncingkan suasana umat Islam, Muhammadiyah tidak ingin menetapkan anggapannya terhadap mereka itu. Buat Muhammadiyah yang dirasa penting adalah mengajak dan membimbing mereka seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah. Muhammadiyah berkeyakinan apabila mereka dengan tidak mengetahui dalil-dalilnya saja sudah sedemikian patuhnya beribadat kepada Allah, tentu mereka akan lebih gembira dan akan lebih mantap mengetahui akan dalil-dalil al Qur’an dan Sunnah Rasulullah itu.

Keyakinan Muhammadiyah yang demikian itu tetap dilaksanakan, walaupun dengan lambat-lambat asal selamat. Alhamdulillah usaha Muhammadiyah ini dengan tidak mengabaikan usaha-usaha organisasi Islam yang sepaham dan sejalan.

Menjawab pertanyaan kedua : Soal bid’ah Muhammadiyah hanya berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW. Ialah, bahwa kita harus menjauhi perbuatan bid’ah. Semua bid’ah dalam agama itu sesat dan semua yang sesat itu tempatnya di neraka. Meskipun demikian pendapat Muhammadiyah tentang bid’ah, Muhammadiyah tidak setuju kalau para ahli bid’ah itu hanya dicaci-maki, dikutuk, dilaknat, masuk neraka dan sebagainya.

Menurut Muhammadiyah demikian itu bukan menambah dekat, malahan menambah jauh. Muhammadiyah cukup menunjukan amalan-amalan atau hal yang dituntunkan Rasulullah SAW. Muhammadiyah akan terus memberikan penerangan dan penjelasan-penjelasan tentang amal-amal ibadat yang menurut Sunnah Rasulullah menurut Qur’an Hadits, dan terus mengajaknya.

Memang dalam langkah atau cara Muhammadiyah yang demikian itu banyak juga yang menyatakan bahwa Muhammadiyah itu lemah iman. Tidak berani tegas dan terag-terangan. Terhadap pendapat yang demikian, Muhammadiyah berterimakasih. Muhammadiyah ingin rasa ukhuwah Islamiyah terjaga. Muhammadiyah ingin hendaknya tali persaudaraan jangan terputus.

Sebab Muhammadiyah berpikir bahwa dengan tak usah memperuncing saja orang lain telah sengaja memecah ummat Islam. Konon, kalau kita retak sesama Islam, tentu orang lain juga yang beruntung. Benar tidaknya, walahu a’lam bissowab.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Muhammadiyah.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi