oleh

5 Ideologi Muhammadiyah yang Harus Dipahami oleh Warga & Pimpinan Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai Ideologi Gerakan Islam

          Muhammadiyah bukanlah Ideologi sebagaimana Ideologi dalam pengertian sistem paham yang radikal, kaku, dan bercorak gerakan politik. Muhammadiyah kendati bukan Ideologi, tetapi dalam perkembangannya sedikit atau banyak mengalami persentuhan dengan konsep-konsep dan kepentingan ideologis. Dalam Muhammadiyah banyak diperbincangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan “Ideologi Islam”, seperti konsep Islam sebagai dasar Negara, masyarakat Islam, asas Islam dan konsep-konsep politik Islam.

          Dalam pemikiran ideologis, M. Djindar tamimi mencatat bahwa:

“pada Muktamar ke 37 1968 di Yogyakarta telah diterima ide untuk mengadakan tajdid dalam Muhammadiyah bidang: Ideologi(keyakinan dan cita-cita hidup), Khittah Perjuangn, Gerak dan Amal usaha serta organisasi, dengan ruusan-rumusannya lebih dikonkritkan dan disistematisir dalam Tanwir sesudah itu, seperti rumusan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dan Khittah Muhammadiyah.”

Pada waktu itu (1968) memang istilah Ideologi mulai dihindari, sehingga Muhammadiyah memakai Istilah “Keyakinan dan Cita-cita Hidup” untuk konsep Ideologi. Hal ini untuk menghindari kesamaan dengan Ideologi Negara, Pancasila.

Semua itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah betapapun tidak menjadi sistem Ideologi, tetapi tidak tertutup dari pengaruh pemikiran ideologis dan sampai batas tertentu mengadopsi elemen-elemen Ideologi gerakan Islam.

1. Muhammadiyah dlm memahami Islam berdasarkan pd Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shohihah. Tdk terikat dg aliran theologi, madzhab fiqih, dan thoriqoh sufiyah apapun. Muhammadiyah menganut fiqih Manhaji, mementingkan dalil dibanding dg Pendapat imam madzhab. Paham Agama dlm Muhammadiyah Bersifat independen, komprehensip, dan integratif. Namun Muhammadiyah tdk sama sekali anti terhadap aliran theologi, madzhab, dan thoriqoh.

2. Muhammadiyah mencirikan diri sbg Gerakan Tajdid. Tajdid dlm Makna Purifikasi & Dinamisasi. Keduanya hrs berjalan seimbang. Purifikasi dlm hal Aqidah, yaitu Pemurnian dr Syirik, Khurafat, & Tahayyul, dlm hal Ibadah, yaitu Pemurnian dr Bid’ah, dlm hal Akhlaq, yaitu Pemurnian dr Akhlaq yg menyimpang. Sedangkan Dinamisasi & modernisasi dilakukan dlm hal Urusan Muamalah Duniawiyah. Sehingga Ajaran Islam dpt diaplikasikan secara aktual & fungsional. Oleh krn itu, Bid’ah hnya ada dlm Ibadah Mahdhah, dlm Wilayah Budaya tdk ada Bid’ah.

3. Muhammadiyah memposisikan diri sbg Islam Moderat atau Wasathiyah. Muhammadiyah tdk Radikal & tdk Liberal. Muhammadiyah memegang teguh Prinsip Tawasuth (Tengahan), Tawazun (Seimbang), & Ta’adul (keadilan).

4. Muhammadiyah menjaga kedekatan yg sama dg Semua Partai Politik. Muhammadiyah tdk berafiliasi pd salah satu Partai manapun. Muhammadiyah menganut Politik Etik (Politik Adiluhung, High Politic).

5. Muhammadiyah bertujuan utk Mewujudkan masyarakat Islam yg sebenar-benarnya. Muhammadiyah tdk bertujuan utk mendirikan Negara Syariah atau Khilafah Islamiyah. Dlm Rangka mencapai Tujuannya, Muhammadiyah lebih Menggunakan Pendekatan kultural, bkn struktural. Dlm Pendekatan kultural, Muhammadiyah Mencerdaskan masyarakat dr bawah dg Dakwahnya yg Berkemajuan, Mencerahkan, Mencerdaskan & Membebaskan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi