fbpx
Home Tarjih & Tajdid Hukum Memakai Cadar Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah

Hukum Memakai Cadar Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah

hukum memakai cadar menurut muhammadiyah
hukum memakai cadar menurut muhammadiyah

Hukum Memakai Cadar Menurut Muhammadiyah – Cadar bagi sebagian kalangan wanita muslim, dianggap sebagai bagian dari pakaian yang harus dikenakan saat berada di tempat umum. Perbedaan pandangan hukum soal cadar ini pun mengemuka belakangan ini. Apakah ada perintah atau larangan dalam sumber hukum Islam.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pernah mengurai masalah cadar itu saat menjawab pertanyaan tentang hukum menggunakan cadar yang akhirnya disidangkan pada Jum’at, 3 Juli 2009 lalu. Pada intinya tidak ada dasar hukum di Al-Quran atau Hadis soal penggunaan cadar.

Berikut fatwa Muhammadiyah tentang hukum menggunakan cadar dikutip Kabar Muhammadiyah (kabarmuhammadiyah.com) dari website MTT PP Muhammadiyah tarjih.or.id, Kamis (19/10):

Tentang masalah cadar, telah dicantumkan pembahasannya dalam Buku Tanya Jawab Agama Islam yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid, jilid 4 halaman 238, Bab Sekitar Masalah Wanita.

Ringkasnya, cadar tidak ada dasar hukumnya baik dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Yang diperintahkan oleh syariat Islam bagi wanita adalah memakai jilbab. Allah swt berfirman dalam surat an-Nur (24) ayat 31:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ

Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …,”

إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا

“kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”

Ayat ini menurut penafsiran Jumhur ulama, bahwa yang boleh nampak dari perempuan adalah kedua tangan dan wajahnya sebagaimana pendapat Ibnu Abbas ra. dan Ibnu Umar ra. (Tafsir Ibnu Katsir vol. 6:51)

Potongan ayat di atas juga dijelaskan oleh hadis riwayat dari Aisyah ra:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بنُ كَعْبٍ الأَنْطَاكِيُّ وَ مُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ الْحَرَّانِيُّ قَالاَ أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ خَالِدٍ بْنِ دُرَيْكٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . قَالَ أَبُو دَاوُدُ هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

[رواه أَبُو دَاوُدَ]

Artinya: “Telah menceritakan pada kami Yakub bin Ka’ab al-Anthaki dan Muammal bin al-Fadhl bin al-Harani keduanya berkata: Telah mengabarkan pada kami Walid dari Said bin Basyir dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah bahwa Asma’ binti Abi Bakar menemui Rasulullah saw dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah saw berpaling darinya dan berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud]

Hadis ini dikategorikan mursal (terputus sanad/periwayatnya -red) oleh Imam Abu Dawud sendiri setelah akhir menuliskan riwayatnya dikarenakan terdapat rawi yang bernama Khalid bin Duraik, yang dinilai oleh para ulama kritikus hadits tidak pernah bertemu dengan Aisyah ra dan Said bin Basyir yang dinilai dhaif (lemah) oleh para ulama kritikus Hadits.

Namun ia mempunyai penguat yang ternilai mursal shahih dari jalur-jalur lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud sendiri dalam al-Marasil (no. 460, cet. Dar al-Jinan, Beirut) dari Qatadah di mana dalam jalur sanadnya tidak terdapat Khalid bin Duraik dan Said bin Basyir. Riwayat tersebut adalah:

حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَارٍ ثَنَا أَبُو دَاوُدُ ثَنَا هِشَامُ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: إنَّ اْلجَارِيَةَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تََصْلُحْ أن يُرَي مِنْهَا إِلاوَجْهِهَا وَيَدَاهَا إِلَى اْلمَفْصِلِ

[رواه أبو داود]

Artinya: “Telah menceritakan pada kami Ibnu Basyar, telah menceritakan pada kami Abu Dawud, telah menceritakan pada kami Hisyam dari Qatadah bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya seorang perempuan jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali wajahnya dan kedua (telapak) tangannya sampai tulang pergelangan tangan (sendi).” [HR. Abu Dawud]

Juga jalur lain seperti dari ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir (24/143/378) dan al-Ausath (2/230), al-Baihaqi (2/226), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (4/283).

Selain itu banyak riwayat-riwayat lain yang memperlihatkan bahwa banyak dari para shahabiyat (sahabat perempuan) yang tidak memakai cadar atau menutupi wajah dan tangan mereka. Seperti kisah Bilal melihat perempuan yang bertanya kepada Nabi saw di mana diceritakan bahwa pipi perempuan tersebut merah kehitam-hitaman (saf’a al-khaddain).

Terkait dengan pakaian perempuan ketika shalat, sebuah riwayat dari Aisyah ra menjelaskan bahwa ketika shalat para perempuan pada zaman Nabi saw memakai kain yang menyelimuti sekujur tubuhnya (mutallifi’at fi-murutihinna).

حَدَّثَنَا أَبُو اْليَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الفَجْرَ فيََشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِنَ اْلمُؤْمِنَاتِ مُتَلِّفِعَاتٍ في مُرُوْطِهِنَّ، ثُمَّ يَرجِعْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ. وَفِى رِوَايَةٍ أَخَرٍ: لاَ يُعْرَفْنَ مِنَ الغَلَسِ

[متفق عليه]

Artinya: “Telah menceritakan pada kami Abu al-Yaman, telah memberitahukan pada kami Syu’aib dari az-Zuhri, telah mengkabarkan padaku Urwah bahwasannya Aisyah berkata: “Pada suatu ketika Rasulullah saw shalat subuh, beberapa perempuan mukmin (turut shalat berjamaah dengan Nabi saw). Mereka shalat berselimut kain. Setelah selesai shalat, mereka kembali ke rumah masing-masing dan tidak seorangpun yang mengenal mereka.” Dalam riwayat lain: “Kami tidak bisa mengenal mereka (para perempuan) karena gelap.” [Muttafaq ‘alaihi]

Imam asy-Syaukani memahami hadits ini bahwa para sahabat perempuan di antaranya Aisyah ra tidak dapat mengenali satu sama lain sepulang dari shalat subuh karena memang keadaan masih gelap dan bukan karena memakai cadar, karena memang saat itu wajah para perempuan biasa terbuka.

Mengenai pertanyaan, apakah jika tidak memelihara jenggot dan memakai cadar termasuk ingkar sunnah, hemat kami tidak. Karena yang dimaksud dengan ingkar sunnah adalah mereka orang-orang yang tidak mempercayai sunnah Nabi dan hanya mengamalkan apa yang termaktub dalam al-Qur’an saja.

Bagaimana Hukum Bercadar Menurut Muhammadiyah?

Bercadar seolah menjadi trend baru di masyarakat. Berbagai kalangan seperti ustadzah, ibu rumah tangga, mahasiswi, atau artis menggenakan cadar di dalam aktivitasnya.

Apakah bercadar ini bagian dari kesadaran teologis atau hanya mengikuti trend fashion?

Pertanyaan itu coba dijawab Sholihul Huda, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya). Ia mengatakan, terdapat dua pendapat (paham) berbeda terkait cadar di kalangan ulama dan para Imam Mazhab.

Padangan pertama menyebutkan pemakaian cadar (niqab) adalah wajib dan berdosa bagi yang tidak memakainya. Pendapat ini, kata Sholik–sapaan akrabnya–menganngap bahwa wajah wanita termasuk aurat yang wajib ditutup dan haram dilihat bagi yang bukan muhrimnya.

“Pendapat ini didasarkan pada tafsir surat Al Ahzab ayat 59. Para Mufasirin seperti Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, dan lainnya berpandangan ada kewajiban bagi semua muslimah untuk menutup aurat dengan jilbab. Termasuk semua kepalanya,” ujar anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur saat dihubungi, Senin (11/12/17). Walaupun, sambung Sholik, para Mufasirin masih berdebat terkait makna jilbab itu sendiri.

Pandangan kedua menyatakan, bercadar bukan wajib. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman wajah bukan termasuk aurat yang harus ditutup.

Sholik menjelaskan, ketidakwajiban wanita bercadar ini didasarkan ijma Sahabat, para ulama Salaf, para Imam Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Assyafiyah, dan Hambali yang didasarkan dari Hadits Nabi SAW.

“Mereka berpendapat bahwa dalam shalat dan thawaf muka dan telapk tangan harus kelihatan,” jelas dia.

Sementara itu, kata Sholik, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah lebih sepakat pada pendapat kedua. Yaitu, aurat wanita yang wajib ditutup adalah semua, kecuali wajah dan telapk tangan. “Ini artinya wajah dan tangan boleh terbuka dan tak harus ditutup,” ungkapnya.

Sholik menyebutkan, memakai cadar tidak ada dalilnya. “Ini artinya memakai cadar bukanlah urusan syariat yang ada konsekuensi hukum dosa atau pahala,” terangnya.

Kandidat Doktor UINSA Surabaya ini mengimbau kepada umat Islam yang bercadar maupun yang tidak supaya saling menghormati dalam konteks relasi sosial.

“Perbedaan adalah hal wajar dari metode tafsir yang digunakan masing-masing ulama,” tuturnya. “Yang penting kita tidak boleh saling memaksakan dan sok paling benar.”

Fenomena ini, lanjut Sholik, juga sudah dikaji dalam Tadarus Peradaban yang diadakan Pusat Pengkajian Al Islam dan Kemuhammadiyahan (PPAIK) UMSurabaya pada tanggal 6 Desember 2017 lalu.

Semoga bermanfaat…