Biografi Buya Hamka, Sastrawan Muslim Terbesar Indonesia

23
biografi buya hamka

Biografi Buya Hamka – HAMKA adalah nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Buya Hamka adalah seorang ulama, sejarawan, politikus, dan sastrawan yang sangat populer di Indonesia.

Bahkan dapat dikatakan, Buya Hamka adalah sastrawan paling produktif dalam sejarah sastra modern Indonesia. Meskipun ia juga dikenal sebagai seorang ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Mulai dari sejarah, filsafat, sosiologi, politik, dan perkembangan Islam.

Buya Hamka belajar bahasa arab dari ayahnya yang juga seorang ulama besar dari tanah Minangkabau, Abdul Karim Amrullah. Hamka kecil hanya sempat mengeyam pendidikan hingga kelas 2 SD.

Hamka lahir di desa Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Buya Hamka wafat pada tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta di usia 73 tahun.

Biografi Buya HAMKA dari Biografi Web

Hamka mendapat sebutan Buya. Dalam khazanah orang Minangkabau, kata itu berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa arab, yang berarti ayahku. Buya juga berarti seseorang yang dihormati atau dituakan.

Ayah Buya Hamka bernama Abdul Karim bin Amrullah. Di Nagari Padang, ia dikenal dengan sebagai Haji Rasul, sebab ia merupakan pelopor Gerakan Tajdid (Islah) di Minangkabau, ketika kembali dari Makkah tahun 1906.

Seorang Buya Hamka muda dibesarkan dalam masa-masa yang penuh dengan pergolakan batin karena pada saat itu terjadi pertentangan keras antara kaum adat dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran Islam.

Ada banyak hal dalam masyarakat yang tidak dibenarkan dalam Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam, namun lazim dipraktikkan sehari-hari oleh masyarakat.

Kelak ada anak Buya Hamka yang mewarisi semangatnya berpolitik yaitu H. Rusydi Hamka, seorang kader Partai Persatuan Pembangunan, anggota DPRD DKI Jakarta.

Selain itu, Buya Hamka juga memiliki seorang anak angkat bernama Yusuf Hamka, seorang chinese yang memutuskan menjadi mualaf.

Riwayat Pendidikan Buya Hamka

 

Buya Hamka kecil bersekolah di Sekolah Dasar Maninjau, namun hanya sampai kelas dua. Ketika ia berusia 10 tahun, ayahnya mendirikan sekolah Sumatera Thawalib di Padang Panjang.

Ketika di Sumatera Thawalib inilah, Hamka mempelajari ilmu agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA pernah mengikuti pengajaran agama di berbagai surau dan masjid yang diberikan ulama-ulama terkenal pada masanya seperti Syekh Ibrahim Musa, Syekh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak belia, HAMKA dikenal sebagai seorang pengembara. Ayahnya sendiri bahkan memberinya gelar ‘Si Bujang Jauh’. Pada usia 16 tahun ia pergi merantau ke Pulau Jawa demi menimba ilmu tentang pergerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin.

Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.

Riwayat Karir Buya Hamka

Biografi Buya Hamka – Perjalanan karir Buya Hamka lumayan menarik untuk disimak. HAMKA muda sempat bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan.

Di tahun 1929 di Padang Panjang, HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957- 1958.

Setelah itu, Buya Hamka diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Sejak perjanjian Roem-Royen di tahun 1949, ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan memulai karier sebagai pegawai di Departemen Agama pada masa kepemimpinan KH. Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering memberikan materi kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air.

Dalam kurun waktu 1951 hingga 1960, Buya Hamka menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Pada tanggal 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia pada waktu itu, Prof. Dr. Mukti Ali, melantik Buya HAMKA sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia.

Namun beliau kemudian meletakkan jabatan itu pada tahun 1981 karena nasihatnya sebagai ketua MUI tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Riwayat Organisasi Buya Hamka

HAMKA aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang.

Mulai tahun 1928 beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929 HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar.

Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Aktivitas Politik Buya Hamka

Semasa hidupnya, Buya Hamka cukup aktif dalam kegiatan politik. Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam.

Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.

Pada tahun 1955 HAMKA beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran HAMKA sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu.

Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, HAMKA menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub dalam Piagam Jakarta.

Namun, pemikiran HAMKA ditentang keras oleh sebagian besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959.

Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meski begitu, HAMKA tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno.

Ketika Sukarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap HAMKA.

“Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi HAMKA, apa yang dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata HAMKA, Sukarno adalah seorang muslim.”

Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya.

Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.

Pada tahun 1978, HAMKA lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.

Idealisme HAMKA kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, HAMKA langsung menolak keinginan itu.

Sikap keras HAMKA kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu, HAMKA lantas meminta Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula HAMKA memutuskan mundur sebagai Ketua MUI.

Aktivitas Sastra Buya Hamka

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.

Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid).

Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura.

Setelah itu HAMKA menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.

(Baca Juga: 55 Kata Bijak Islami Terbaik dari Buya Hamka)

Aktivitas Keagamaan Buya Hamka

Ada peristiwa menarik dalam perjalanan biografi Buya Hamka. Selepas peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, HAMKA secara total berperan sebagai ulama. Ia meninggalkan dunia politik dan sastra.

Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya. Keulamaan HAMKA lebih menonjol lagi ketika dia menjadi ketua MUI pertama tahun 1975.

HAMKA dikenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah beliau mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam.

Ada satu yang sangat menarik dari Buya HAMKA, yaitu keteguhannya memegang prinsip yang diyakini. Inilah yang membuat semua orang menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi HAMKA.

Pada zamam pemerintah Soekarno, HAMKA berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ’kebakaran jenggot’. Tidak hanya berhenti di situ saja, HAMKA juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu.

Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ”Panji Masyarat” pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ”Demokrasi Kita” yang terkenal itu.

Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari HAMKA lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Wafatnya Buya Hamka

Pada tanggal 24 Juli 1981 HAMKA telah pulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam.

Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara, ter masuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Penghargaan yang Diterima Buya Hamka

Atas jasa dan karya-karyanya, HAMKA telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia

Pandangan Buya Hamka terhadap Sastra Indonesia

Pandangan sastrawan, HAMKA yang juga dikenal sebagai Tuanku Syekh Mudo Abuya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo tentang kepenulisan.

Buya HAMKA menyatakan ada empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama, memiliki daya khayal atau imajinasi; kedua, memiliki kekuatan ingatan; ketiga, memiliki kekuatan hapalan; dan keempat, memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.

Karya-karya Buya Hamka

Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilang Buya HAMKA. Tafsir Al-Quran 30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.

HAMKA meninggalkan karya tulis segudang. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian: politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).

Semoga biografi buya hamka ini dapat menambah wawasan dan khazanah pembaca sekalian.