oleh

Berapakah Usia KH Ahmad Dahlan Ketika Mendirikan Muhammadiyah?

-Featured-340 views

Usia produktif dan kematangan kepribadian dapat menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang mewujudkan cita-cita. Seperti sosok KH Ahmad Dahlan, pendiri dan president pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah. Ketika mendirikan organisasi ini (1912), beliau termasuk dalam kategori usia produktif.

Proses pendidikan dan aktivitas di dunia pergerakan juga telah mematangkan kepribadian KH Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, berapakah usia KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah?

Melacak Usia KH Ahmad Dahlan

Nama kecilnya Mohammad Darwis, putra KH. Abubakar bin KH. Sulaiman, Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta (Yusron Asrofie, 2005: 32). Lahir pada tahun 1868, umur Darwis selisih tiga tahun lebih muda dengan Rasyid Ridla, tokoh pembaru Islam dari Mesir (Djarnawi Hadikusuma, t.t.: 66).

Pada tahun 1889, dalam usia 21 tahun, Darwis menikah dengan Siti Walidah, putri KH. Muhammad Fadhil. Beberapa bulan setelah menikah, ia menunaikan ibadah haji pertama kalinya (1889). Sepulang naik haji berganti nama menjadi Ahmad Dahlan (Kyai Syuja’, 2010: 6-7).

Pada tahun 1896, dalam usia 28 tahun, Ahmad Dahlan menggantikan jabatan KH. Abubakar Khatib Amin masjid besar Yogyakarta. Sebagai khatib amin, secara otomatis ia masuk jajaran pengurus Raad Oelama keraton Yogyakarta.

Selain sebagai khatib, Ahmad Dahlan juga seorang pengusaha batik dan aktivis pergerakan. Kauman pada awal abad ke-20 merupakan sentra kerajinan batik. Salah satu ulama besar yang menjadi pengusaha batik terkaya di Kauman adalah KH. Abubakar yang tak lain adalah ayah kandung Ahmad Dahlan.

Sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan adalah anggota Jam’iatul Khair (berdiri 1901). Dia tercatat sebagai anggota nomor 770 (Djarnawi Hadikusumo, t.t.: 64). Selama menjalankan roda bisnis batik, Ahmad Dahlan banyak bertemu dengan tokoh-tokoh Islam di Batavia, seperti Sayid Usman al-Habsyi. Di Semarang, K.H. Ahmad Dahlan berkenalan baik dengan Raden Haji Dahlan (Kiai Saleh Darat).

Di Padang, K.H. Ahmad Dahlan sempat bertemu dan belajar ilmu falak dengan Syaikh Djamil Djambek (Junus Salam, 2009: 59-60).

Dalam perjalanan naik Haji kedua kalinya (1902), ketika memasuki usia 34 tahun, Ahmad Dahlan menyempatkan diri mempelajari aliran pembaruan Islam bersumber dari kitab-kitab karangan para pembaru dari Mesir. Mula-mula ia tertarik pada Tafsir Muhammad Abduh. KH. Baqir, kerabat Ahmad Dahlan yang menetap di Makkah (sejak tahun 1890), kemudian memperkenalkan sang khatib dengan Rasyid Ridla, murid dan kawan seperjuangan Muhammad Abduh.

Aktif dalam Pergerakan

Sepulang naik Haji yang kedua kalinya, Ahmad Dahlan merintis gerakan pembaruan Islam dengan motor penggeraknya kaum muda di Kauman, Yogyakarta. Ia merintis sebuah gerakan di tengah-tengah masyarakat yang mengisolasi diri dari dunia luar.

Budaya taklid telah menenggelamkan akal sehat. Para ulama yang menjadi kunci kemajuan agama justru malas berpikir. Begitu kuatnya para ulama berpegang teguh pada fiqih-fiqih klasik sampai mereka lupa bahwa sumber ajaran Islam yang murni adalah al-Quran dan Hadis Nabi.

Sekitar enam tahun pasca naik haji kedua kalinya (1908), Ahmad Dahlan menyaksikan gerakan baru yang dirintis oleh kaum intelektual bumiputra. Dia kemudian bergabung dalam organisasi Boedi Oetomo (BO) yang diprakarsai oleh Wahidin Soediro Hoesodo.

Ketika bergabung dalam BO, usia Ahmad Dahlan sekitar 40 tahun. Dengan berkiprah di BO telah mendorong semangat Ahmad Dahlan untuk mendirikan perkumpulan Islam modern.

Ketika Mendirikan Muhammadiyah

Pada tahun 1911, dalam sebuah pengajian di Langgar Duwur, Khatib Amin menetapkan nama ”Muhammadiyah” untuk gerakannya. Pengusul nama ”Muhammadiyah” adalah KH. Sangidu. Sebagai bentuk penghormatan atas inisiasi nama organisasi ini, maka nama KH. Sangidu tercatat dalam stamboek sebagai anggota nomor 1 di Muhammadiyah.

Gagasan Ahmad Dahlan mendapat dukungan dari pemuda-pemuda Kauman yang penuh semangat dan idealisme pada waktu itu. RM. Dwijosewojo dan R. Boedihardjo (ketua dan sekretaris Boedi Oetomo cabang Yogyakarta) turut membantu Ahmad Dahlan mengurus pengajuan rechtpersoon perkumpulan yang akan didirikan dengan beberapa syarat.

Raden Soesrosoegondo, guru bahasa Belanda dan Melayu di Kweekschool Jetis, pada tanggal 20 Desember 1912 membantu menyusun draf Statuten perkumpulan yang akan didirikan oleh Ahmad Dahlan. Kemudian, surat permohonan badan hukum diajukan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tanpa harus menunggu rechtpersoon turun dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Ahmad Dahlan dan kawan-kawan mendeklarasikan berdirinya Muhammadiyah pada malam Ahad, 29 Desember 1912, di Loodge Gebouw Malioboro—dikenal dengan nama Loji Setan (sekarang Gedung DPRD DIY). Ketika mendeklarasikan berdirinya Muhammadiyah, usia Ahmad Dahlan genap 44 tahun. Bilangan usia yang tergolong produktif untuk menopang cita-citanya..

Sumber

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi