oleh

Belajar Sikap Rendah Hati dari Sosok Buya Yunahar Ilyas

Dari blusukkan ke dalam gang-gang sempit pasar tradisional dan mengidolakan olahan ikan, serta krecek rendang sebagai menu andalan ketika makan di Warung Masakan Padang, semua menjadi hal yang biasa beliau lakukan meskipun sudah menjadi tokoh nasional.

Persaksian tersebut disampaikan oleh Suparno, Karyawan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang ditugaskan menjadi supir Buya Yunahar Ilyas sejak tahun 2000 sampai 2018, ketika ditemui dikediamannya pada Rabu (8/1).

Diceritakan, ketika hendak mengisi pengajian di daerah Purwodadi. Batik yang telah disiapkan oleh Buya Yunahar ketingalan, dan saat itu Buya hanya mengenakan jas dan tidak membawa baju formallain untuk dikenakannya saat berceramah. Alhasil dengan berfikir cepat dan taktis, seperti kebiasaan yang Buya lakukan. Buya Yunaharminta diantarkan ke pasar tradisional dan memilih dan membeli batiknya sendiri.

“Ketika mau ceramah di Purwodadi, dari rumah pagi-pagi pake jas begitu kain batik yang sudah disiapkan ternyata tertinggal. Akhirnya cari di pasar  Purwodadi, pagi-pagi masuk ke pasar dan membeli batik seharga Rp. 65.000.00-.” ungkap Pak Parno.

Menurut Pak Parno, meskipun seharga Rp 65.000 kalau yang pakai Ustadz Yun orang-orang pasti mengiranya itu adalah batik yang mahal. Hal tersebut kemudian disambut Buya Yunahar dengan tawa lepas, namun sopan sembari menepuk-nepuk pundaknya.

Seingat Pak Parno, kebiasaan Buya Yun ketika bepergian kemanapun selama dihantar memakai mobiltidak pernah mau duduk di belakang. Duduknya selalu berdampingan dengan supir.

“Biasa beliau duduk sejajar dengan supir disamping (kursi depan) dan paling terkesan biasanya kalau memakai baju yang hampir-hampir sama dengan sopir beliau tidak merasa malu,” tuturnya.

Kebiasaan ini menjadi ciri penerapan sikap egaliter Buya Yunahar. Bukan hanya itu, ketika diminta mengisi pengajian di luar kota dan mengharuskan untuk menginap, Buya Yunahar tidak mau kamar yang disediakan oleh panitia untuk beliau dan supirnya dibedakan kelasnya, seringnya Buya Yunahar protes kepada panitia karena membedakan-bedakan hal ini. Menurutnya, pangkat dan jabatan di dunia bukanlah ukuran untuk memuliakan.

Terkait persolan kemiripan baju yang dipakai Buya Yunahar dengan baju yang dikenakan supirnya, Pak Parno ‘mengacungkan jempol’ kepada Buya Yunahar. Bagaimana tidak, jika hal ini terjadi pada tokoh nasional lain mungkin tokoh tersebut akan minta ganti kostum. Tapi beda dengan Buya Yun, beliau tetap merasa santai, bahkan hal ini menjadi bahan becandaan selama perjalanan.

Pak Parno juga menjamin bahwa, siapa pun supir Buya Yun pasti tidak akan kelaparan. Minimal tidak kekurangan logistik selama perjalanan. Seperti sudah ditradisikan oleh Liswarni Syahrial, istri Buya Yunahar, dimana sebelum pergi kemanapun selalu menyempatkan untuk menyediakan makanan, baik bagi supir maupun sang suami.

“Ibu Yun biasanya sebelum kita berangkat sudah menyiapkan logistik untuk menemani perjalanan kita. Yang masih saya ingat adalah tentang pembagian porsi antara supir dan Ustadz Yun, sama sekali tidak dibedakan. Mulai dari jumlah, rasa dan jenis makanan yang dipersiapkan,” kenang Pak Parno.

Sudah menjadi rahasia umum, sebagai ‘urang awak’, Buya Yun tentu mengidolakan masakan Padang sebagai menu andalan dimanapun dan kapanpun. Kegemarannya ini sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa cinta tanah air. Sebagai orang yang lahir di tanah Sumatera.

Meskipun demikian, beliau masih memiliki toleransi rasa makanan dan perasaan orang lain. Misalnya, ketika Pak Parno ingin makan dengan menu yang lain, Buya Yunahar tidak menolaknya. Malah sering ditawarkan dahulu ke supirnya, “mau makan apa mas ?” tiru Pak Parno.

Beliau juga dikenal tidak pernah telat untuk menghadiri undangan pengajian di berbagai daerah. Lebih sering beliau hadir beberapa menit sebelum pengajian dimulai. Pernah suatu ketika, sepulang dari mengisi Pengajian di Australia, baru turun dari pesawat dan belum pulang ke rumah, Buya Yunahar langsung pergi ke tempat pengajian lain. Kebiasaan ini dilakukan sampai beliau tutup usia.

Hal ini menjadi potongan kecil kisah Buya Yunahar Ilyas, tentu masih banyak kejadian lain yang bisa dijadikan sebagai inspirasi hidup. Buya Yunahar dengan segala kapasitasnya sebagai ulama dan tokoh nasional, tetap memiliki rasa rendah hati, tidak tamak dan sombong. Kenangan ini yang melekat disetiap ingatan orang-orang yang pernah bertemu dengan Buya Yun. Sepeningal Buya Yun, orang-orang tersebut menuliskan kenangannya bersama kader militan, Buya Yunahar llyas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi