Apakah Dibolehkan Shalat Tahiyyatul Masjid Sebelum Shalat Ied?

11
shalat ied, shala ied muhammadiyah, Shalat Tahiyyatul Masjid

Shalat Tahiyyatul Masjid Sebelum Shalat Ied – DALAM Islam kita mengenal shalat sunat rawatib, yaitu shalat yang biasa dilaksanakan mengiringi  (sebelum ataupun sesudah) shalat wajib. Nah, bagaimana dengan shalat Idul Fitri, apakah diiringi juga dengan shalat sunat semacam itu?

Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam shalat Id dua raka’at. Beliau tidak shalat lain sebelum dan sesudahnya. (HR. Bukhari No. 989)

Demikian juga Ibnu Arabiy berkata, “Jika ada tuntunan shalat sunnah sebelum shalat Id di lapangan tentu ada riwayat yang menukilkan untuk kita. Orang yang mengerjakan shalat sunnah sebelum Id beralasan karena saat itu waktu mutlak yang diperbolehkan untuk shalat. Adapun orang tidak mengerjakannya beralasan karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mencontohkannya. Barangsiapa yang mengikuti sunnah Nabi sungguh dia mendapat petunjuk.” (Shahih Fiqh Sunnah 1/605)

Baca Juga: Tata Cara Sholat Muhammadiyah Berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih

Bagaimana dengan shalat sunnah tahiyatul masjid yang pastinya dilakukan ketika masuk ke masjid? Hal itu tentu saja boleh dilakukan, termasuk ketika akan melakukan shalat sunnah Id di masjid.

Nah, Bagaimana jika shalat Id dilakukan di lapangan, bukan dimasjid? Adakah shalat sunnah tahiyatul masjid boleh dilakukan di lapangan juga?

A. SHALAT IED LEBIH UTAMA DI LAPANGAN

Berdasarkan hadits-hadits nabi saw, maka shalat Ied dilaksanakan dilapangan, yang dalam istilah hadits ialah mushalla. Jadi pengertian mushalla dimasa nabi berbeda dengan pengertian mushalla di zaman sekarang. Kalau sekarang istilah mushalla digunakan untuk tempat shalat jamaah 5 waktu, tapi tidak dilaksanakan shalat Jum’at padanya.

عن ابن عمر ر ض  أنّه’ كَانَ إذَا غَدَا إلَى المُصَلّى كَبّرَ فَرَفَعَ صَوْتَه’ بِالتَّكْبِيرِ – رواه الشافعي –

Artinya : Dari Ibnu Umar Ra Sesungguhnya ia apabila keluar pagi-pagi menuju “Mushalla” maka ia bertakbir sambil mengeraskan bacaan takbirnya itu. (HR As Syafi’i)

وفي رواية : كَانَ يَغْدُوْ إِلَى المُصَلّى يَوْمَ الفِطْرِ إِذَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَيكَبّرُ حَتّى يأتِي الُمصَلّى ثمّ يُكبّرُ بِالمُصَلّى حَتَّى إذَا جَلَسَ الإمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيرَ. – رواه الشافعي –

Artinya : Dalam suatu riwayat “ ia biasa  keluar pagi-pagi menuju “Mushalla” pada hari raya Idul Fithri apabila matahari telah terbit, maka ia bertakbir sampai datang ke mushalla, kemudian dia bertakbir di mushalla sampai  imam duduk, barulah dia berhenti bertakbir.”

Yang dimaksud dengan mushalla dalam hadits-hadits diatas ialah lapangan tempat shalat ied.

B. DIBOLEHKAN  SHALAT IED DI MESJID KALAU HARI HUJAN

Kalau hari hujan, maka dibolehkan shalat Ied di mesjid, dengan alasan Hadits berikut:

عن أبي هريرة  أنَّهُمْ أصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدِ فَصَلّى بِهِمْ النَّبِيّ ص م صَلاَةَ العِيْدِ فِي الَمسْجِدِ   رواه ابو دود وابن ماجه

Artinya : Dari Abu Hurairah, bahwa para sahabat ketika hujan  turun pada hari raya, maka Nabi saw shalat Ied  bersama mereka di mesjid. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah.)

C. DIPERINTAHKAN SHALAT TAHIYYATUL MASJID, KALAU MASUK MESJID. BAHKAN WAKTU KHUTBAH SEDANG BERLANGSUNG ATAU AZAN SEDANG BERKUMANDANG.

عن أبي قتادة  قال : قال رسول الله ص م : إذاَ دَخَلَ أَحدُكُم المَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتّى يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ – رواه الجماعة –

Artinya : Dari Abi Qatadah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw : “Apabila salah seorang kamu masuk mesjid, maka janganlah duduk sehingga shalat sunat 2 (dua) rak’at.” (HR Jamaah ahli hadits)

والأثرَمُ في سُنَنِهِ  وَلَفْظُهُ : أُعطُوا المَسَاجِدَ حَقَّهَا, قَالوا : وَمَا حَقُّهَا ؟ قال : أنْ تُصَلّوا رَكْعَتَينِ قَبْلَ أن تَجْلِسُوا

Artinya : Dan al Atsram dalam kitab sunannya –meriwayatkan- dan lafaznya adalah sbb : “Berikanlah kepada mesjid akan haknya.” Mereka (para sahabat) bertanya : “Apakah hak mesjid itu?” Nabi menjawab : “Yaitu hendaknya kamu shalat dua rak’at sebelum kamu duduk.”

عن جابر رض قال : دَخَلَ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللهِ ص م يَخْطُبُ, فَقَالَ : صَلَّيْتَ ؟ قَالَ لاَ      قالَ : فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ  – رواه الجماعة –

Artinya : Dari Jabir ra  berkata ia : “Pada suatu hari Jumat ada seorang laki-laki masuk kemesjid waktu Rasulullah sedang berkhutbah.” Lalu Rasulullah bertanya : “Sudahkah kamu shalat ?” Orang itu menjawab : “Belum.” Kemudian rasulullah menyuruh : “Shalatlah dua rakat.” (HR Jamaah ahli hadits.)

وفي رواية : إذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَومَ الجُمُعَةِ والإمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا –رواه مسلم  و أحمَدُ وأبو دود –

Artinya :  “Apabila salah seorang kamu  datang  dihari Jum’at diwaktu Imam sedang berkhutbah, hendaklah ia shalat dua rak’at dengan agak dipercepat.” (HR Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

Begitu juga belum dijumpai dalil yang berupa larangan shalat tahiyyatul masjid ketika azan berkumandang. Artinya dibolehkan shalat tahiyyatul masjid walaupun azan sedang berkumandang. Walaupun menjawab seruan azan juga diperintahkan Nabi saw.

D. LARANGAN SHALAT SUNAT SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT IED

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جدّه : أنَّ النبيَّ ص م كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً, فِي الأولَى سَبعًا وَخَمْسًا فِي الآخِرَة. وَلَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا.   رَوَاه أحمَد وابنُ مَاجَه

وقَالَ أحمد : أنا أذهب إلى هذا.  الحديث رقم 1286 من كتاب نيل الأوطار للإمام الشوكاني

Artinya : Dari Amru bin Syuaib dari ayah dan dari datuknya, bahwa Nabi Muhammad saw bertakbir 12 kali, yaitu tujuh kali pada rak’at pertama, dan lima kali pada rak’at kedua, dan tidak ada shalat (lain) sebelum dan sesudahnya. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari hadits diatas jelas bahwa tidak ada shalat sunat lain sebelum atau sesudah shalat Ied.

E. APAKAH DIBOLEHKAN SHALAT TAHIYYATUL MASJID KALAU HARI HUJAN DAN SHALAT IED NYA DI MESJID ?

Maka kalau kita bandingkan dan kita gabungkan hadits-hadits diatas, maka kalau shalat Ied dilakukan di mesjid (kalau hari hujan), maka boleh dilakukan shalat tahiyyatul masjid, tapi bukan shalat qabliyah Ied.

Apalagi kalau mengingat hadits lain yang berbunyi :

عن جابر رض قال : دَخَلَ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللهِ ص م يَخْطُبُ, فَقَالَ : صَلَّيْتَ ؟ قَالَ لاَ

قالَ : فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ  – رواه الجماعة –

Artinya : Dari Jabir ra  berkata ia : Pada suatu hari Jumat ada seorang laki-laki masuk kemesjid waktu Rasulullah sedang berkhutbah. Lalu Rasulullah bertanya : Sudahkah kamu shalat ? Orang itu menjawab : Belum. Kemudian rasulullah menyuruh : Shalatlah dua rakat. (HR Jamaah ahli hadits)

 

وفي رواية : إذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَومَ الجُمُعَةِ والإمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا –رواه مسلم  و أحمَدُ وأبو دود –

Artinya :  Apabila salah seorang kamu  datang  dihari Jum’at diwaktu Imam sedang berkhutbah, hendaklah ia shalat dua rak’at dengan agak dipercepat. (HR Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

Dari hadits diatas jelas bahwa bagaimana pentingnya shalat tahiyyatul masjid. Kenapa? Karena mendengar khutbah itu sangat penting dan sangat utama. Tapi nabi saw menegor orang yang belum shalat tahiyyatul masjid.

Sedangkan sesudah shalat Ied, jelas tidak dibolehkan shalat sunat lainnya. Karena shalat Ied sendiri, mayoritas ulama berpendapat hukumnya adalah sunat, maka tidak ada shalat sebelum dan sesudahnya.